Menurut Federasi Lempar Telur Dunia, permainan lempar telur sebetulnya ditemukan pada 1322. Kala itu, hanya ada satu orang yang memiliki ayam di Desa Lincolnshire, yaitu kepala biara. Ia mendorong orang untuk pergi ke gereja dengan imbalan satu butir telur.
Namun suatu waktu, banjir tiba-tiba melanda desa mereka. Para umat pun berhalangan untuk pergi ke gereja. Akhirnya, para pelayan gereja melemparkan telur kepada para umat.
Seiring berkembangnya zaman, tradisi lempar telur kini mulai diadaptasi oleh sejumlah negara, tak terkecuali Indonesia. Di negara kita, telur sering dijadikan salah satu benda untuk memeriahkan suasana ulang tahun.
Biasanya, para teman atau sahabat terdekat akan menyiapkan tepung terigu, telur, atau bahkan air got untuk mengerjai temannya yang sedang berulang tahun. Meski terdengar aneh, tradisi ini dianggap sebagai salah satu penghormatan bagi sang empunya acara.
Eits, tunggu dulu, penderitaan ternyata belum berakhir sobat. Setelah badan lengket seperti adonan kue, ia harus mentraktir teman-temannya yang telah memberikan kejutan. Ajaib bukan? Ya, seperti itulah tradisi ulang tahun di kalangan generasi milenial Indonesia.
Jika dikaitkan dengan kasus pelemparan telur yang dilakukan oleh William, aksi nekatnya itu ternyata sudah menjadi hal yang lumrah di Negeri Kangguru, Australia.