"Lagi-lagi hal ini tergantung persepsi si pria. Kalau dia menganggap cinta membuatnya menerima wanita tersebut dengan kondisi apa pun, tentu keperawanan tidak dapat dijadikan alasan. Namun saat pria menjujung tinggi nilai moralitas, maka dia akan berpikir kembali saat harus menerima si perempuan. Sekali lagi, tidak ada yang paling benar dalam hal ini, semua kembali ke persepsi dasar yang Anda amini," ujar Mei.
Sementara itu, bagaimana jika pertanyaan ini dilontarkan di ranah publik, kira-kira jawaban mana yang paling banyak dipilih?
Menurut jawaban beberapa netizen di akun penulis, @piiluss, kebanyakan netizen memilih tidak mempermasalahkannya. Berikut beberapa jawaban yang berhasil dihimpun Okezone melalui media sosial penulis;
Akun Instagram @bluelighter8
"Jadi begini, perawan sampai saat ini masih erat kaitannya dengan selaput dara yang mana selaput dara dari tiap perempuan itu berbeda ketebalan dan kekuatannya untuk ditembus, dan penetrasi jari, penis dan alat bantu sex bisa merobek selaput dara, namun tidak bisa dipungkiri ada hal lain yang bisa menyebabkan robeknya selaput dara yaitu kecelakaan.
Dan jangan menutup mata jika banyak perempuan yang menjadi korban perkosaan yang bukan kehendaknya. Jadi balik lagi ke masalah perawan, kalau yang diukur hanya sebatas selaput dara yang robek, menurut saya laki-laki yang memilih pasangan berdasar pada pemahaman itu, pemikirannya terlalu dangkal.
Masalah keperawanan sesorang, saat ini cuma bisa dipastikan dengan pemeriksaan, jadi kalau sampai ada laki-laki yang bilang perempuan jalannya ngangkang, betisnya ini itu, dll, yang mengarah pada judging sesorang sudah tdk perawan, itu kayak bangke level 10!
Terus, kalau perempuan dianggap punya standar perawan, lalu laki-laki apa? Diukur dengan apa? Superior laki-laki masih terlalu tinggi! Yuk jadi #lakilakibaru yang pemikirannya lebih terbuka"
Akun Instagram @gitanwng