Hasilnya pun hampir 80 persen dari partisipan melaporkan peningkatan rasa sakit jika mereka tidak tidur atau begadang di malam sebelumnya. Partisipan yang begadang merasa sakit pada suhu yang lebih rendah daripada partisipan yang diberi waktu tidur secara penuh.
Selain itu, para peneliti juga menggunakan pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) pada otak partisipan untuk mengukur aktivitas otak yang terkait dengan rasa sakit. Apa yang mereka temukan pun mengejutkan. Area otak yang berhubungan dengan perasaan sakit, seperti korteks somatosensori, menunjukkan peningkatan aktivitas setelah kurang tidur.
Namun, mereka juga menemukan bahwa area lain seperti striatum dan korteks insular di mana memiliki fungsi yang lebih kompleks untuk mengklasifikasikan rangsangan nyeri kurang berfungsi.
Kita dapat melihat bahwa otak, setelah kurang tidur, pada dasarnya membiarkan lebih banyak rasa sakit, tetapi kemudian daerah yang biasanya mengatur atau mengevaluasi bahwa sinyal nyeri yang masuk terganggu atau dihambat oleh kurang tidur.

Hasil penelitian tersebut pun disetujui oleh Dr. Scott Krakower, asisten kepala unit, psikiatri, Zucker Hillside Rumah Sakit, Glen Oaks, New York. Diungkapkan bahwa secara klinis, ketika seseorang merasa kurang tidur atau mengalami masalah dengan hal-hal seperti itu, biasanya lebih cenderung merasa lebih gelisah dan cemas.