WALAUPUN sudah diperingatkan sebagai tindakan berbahaya dan berisiko, para wisatawan pencari sensasi tetap nekad mendatangi mulut kawah gunung berapi yang sedang meletus.
Fenomena "wisata gunung berapi" membuat ribuan orang berusaha mendekati lokasi letusan gunung berapi untuk melihat, mendengar, dan merasakan langsung betapa panasnya suhu di dekat mulut kawah.
Padahal, para geolog, otoritas terkait serta badan penanggulangan bencana di sejumlah negara telah memperingatkan bahwa tindakan nekad wisatawan gunung berapi itu berisiko.
Ada Ulat di Mie Kering Kemasan, Waspada
Terakhir laporan penelitian Royal Geographical Society memperingatkan tentang risiko yang makin meningkat akibat "pariwisata gunung berapi".
Di sejumlah negara, seperti Islandia yang memiliki gunung berapi aktif, badan penanggulangan bencana harus bersaing dengan kedatangan wisatawan yang terus berduyun-duyun mendekati puncak gunung berapi yang sedang erupsi.
Kesimpulan penelitian itu menyebutkan para 'turis gunung berapi' itu tak memahami risiko serius yang dihadapi saat melakukan pendakian mendekati mulut kawah.
Penelitian tersebut, yang diterbitkan oleh Royal Geographical Society dan ditulis oleh ahli geografi Universitas Cambridge, Amy Donovan, memperingatkan bahwa kehadiran pengunjung seperti itu dapat membahayakan bagi upaya penyelamatan