VONIS HIV/AIDS mengharuskan penderita mengonsumsi obat ARV seumur hidup. Sayangnya, kebijakan Bank Dunia mengancam subsidi obat-obatan ini pada negara berpenghasilan menengah.
Perawakannya yang cukup berisi, dengan tampilan agak tomboy, mengenakan kacamata hitam yang disangkutkan di kepalanya yang berpotongan cepak, Astrid, 38, tidak ubahnya seperti wanita biasa. Siapa sangka, dia merupakan salah seorang penderita AIDS. Wanita yang ramah ini sudah sejak 2013 divonis AIDS. Tanpa malu, apalagi ragu, dia berbagi cerita soal perjalanan madatnya selama ini. Dia mengenal narkoba sejak SMP, dari pil koplo dan ganja hingga ke heroin/putaw di bangku SMA.
“Pokoknya dulu di sekolah sebagian besar pakai (narkoba) saya ikutan,” katanya dalam acara AHF Menyerukan Bank Dunia Menaikkan MIC di Bali belum lama ini. Mengetahui kebiasaan buruk anak bungsunya, orang tua Astrid mengirimkan putrinya itu ke Australia. “Saya marah karena orangtua seperti membuang Saya. Akhirnya saya malah makin dalam terjerumus narkoba di sana (Australia). Saya pakai jarum suntik bergantian, sempat berhubungan seks dengan pacar yang AIDS. Saya nggak tahu kalau itu semua bisa berisiko AIDS, HIb, TB, hepatitis C,” tuturnya. Ketika sempat dites, Astrid negatif AIDS.
(Baca Juga: Bergaya dengan Daster ala Emak-Emak, 5 Artis Ini Tetap Cantik)
Malah, sang kakak yang lebih dulu meninggal akibat penyakit itu. Namun, beberapa tahun berselang, dia mencoba tes lagi, rupanya barulah positif AIDS. Bukannya segera bertindak, dia malah ogah minum obat. “Dulu mikirnya kalau sudah mau mati ya sudah, buat apa berobat. Karena vonis itu saja sudah bikin saya down ,” ucapnya. Namun, atas dorongan keluarga, dia lalu bangkit dan mencoba pengobatan yang disarankan. Jadilah Astrid mengonsumsi obat ARV (antiretroviral) seumur hidup. Setiap pukul 09.00 dan 21.00, dia harus minum 2-3 pil berukuran besar.

Pada kesempatan terpisah, dr Adyana Esti, tenaga medis Klinik Angsamerah Jakarta, mengatakan, dengan pengobatan dan kontrol yang baik dan benar, sangat mungkin bagi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) memiliki pasangan yang bukan penderita dan tidak menularkannya. Begitu juga ibu ODHA bisa melahirkan anak yang tidak terinfeksi HIV.