Budaya yang didominasi pria
Jika berbicara dengan warga Korea Selatan dari generasi yang lebih tua terkait dengan tingkat fertilitas yang rendah, maka perbedaannya begitu kentara.
Mereka memandang orang-orang seperti Yun-hwa sebagai terlalu individualis dan memikirkan diri sendiri.
Saya memulai pembicaraan dengan dua perempuan berumur 60-an tahun, menikmati taman di samping sungai yang membelah Seoul tengah.
Yang pertama mengatakan dirinya memiliki tiga anak perempuan berusia 40-an, tetapi tidak seorang pun mempunyai anak.
"Saya berusaha menanamkan patriotisme dan tugas untuk negara dengan melahirkan anak, dan tentu saja saya menginginkan mereka melanjutkan garis keturunan," katanya. "Tetapi keputusan mereka adalah untuk tidak melakukan itu."
"Seharusnya terdapat perasaan melakukan tugas negara," temannya menimpali. "Kami sangat mengkhawatirkan rendahnya tingkat fertilitas disini."
Yun-hwa dan rekan-rekannya, anak dari dunia yang telah menjadi global, tidak terpengaruh dengan pandangan seperti itu.
Ketika saya mengatakan kepadanya, jika dirinya dan sebayanya tidak mempunyai anak maka kebudayaan negaranya akan mati, dia mengatakan kepada saya bahwa sekarang adalah saatnya budaya yang didominasi pria untuk menghilang.
"Must die," katanya dalam bahasa Inggris. "Must die!"
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.