Sekarang semakin banyak perempuan yang melakukan pekerjaan yang sebelumnya dipegang pria - di bidang manajemen dan profesi. Tetapi meskipun terjadi perubahan ekonomi dan kemasyarakatan yang cepat, sikap terkait gender lambat berubah.
"Di negara ini, perempuan diharapkan menjadi penggembira laki-laki," kata Yun-hwa.
Lebih dari itu, katanya, terdapat kecenderungan di antara perempuan menikah untuk berperan sebagai pemelihara keluarga yang dinikahinya.
"Terdapat banyak contoh ketika bahkan seorang perempuan yang bekerja, ketika dia menikah dan mempunyai anak, tugas memelihara anak adalah sepenuhnya tanggung jawabnya," katanya.
"Dan dia juga diminta untuk memelihara mertuanya jika mereka sakit."
Pada umumnya laki-laki Korea Selatan menghabiskan 45 menit setiap harinya untuk melakukan pekerjaan yang tidak dibayar seperti memelihara anak, demikian dinyatakan Organisasi Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), sementara perempuan menggunakan lima kalinya.
"Kepribadian saya tidak cocok untuk menjalankan peran pendukung," kata Yun-hwa. "Saya sibuk dengan kehidupan saya."

Tetapi bukan hanya dia tidak tertarik menikah.
Dia bahkan tidak ingin mempunyai pacar. Salah satu alasannya adalah risiko menjadi korban balas dendam pornografi, di mana dia katakan sebagai sebuah "masalah besar" di Korea. Dia juga mengkhawatirkan kekerasan rumah tangga.
Badan Kriminologi Korea menerbitkan penelitian tahun lalu yang menyatakan 80% dari laki-laki yang ditanyakan mengaku telah melecehkan pasangannya.
Ketika saya menanyakan Yun-hwa bagaimana laki-laki melihat perempuan di Korea Selatan, dia menyebutkan satu kata: "Budak."
Jelas bagaimana hal ini menyebabkan kekurangan jumlah bayi di Korea Selatan.
Tingkat pernikahan di Korea Selatan berada di titik terendah sejak dilakukan pencatatan - 5,5 per 1.000 orang, sementara di tahun 1970 adalah 9,2 - dan sangat sedikit anak yang lahir di luar nikah.
Hanya Singapura, Hong Kong dan Moldova yang memiliki tingkat fertilitas (jumlah anak per perempuan) serendah Korea Selatan.
Semuanya pada tingkat 1,2 menurut angka Bank Dunia, sementara tingkat penggantian - angka yang diperlukan agar populasi tetap merata - adalah 2,1.

Faktor lain yang membuat orang tidak berkeluarga adalah biaya. Meskipun sekolah pemerintah gratis, persaingan persekolahan berarti orang tua diharapkan mengeluarkan dana tambahan agar anaknya bisa bersaing.
Semua hal ini menyebabkan gejala masyarakat baru di Korea Selatan: Generasi Sampo. Kata "sampo" berarti meninggalkan tiga hal - hubungan, pernikahan dan anak.
Yun-hwa yang sangat mandiri mengatakan dirinya tidak membuang ketiga hal tersebut - dirinya memilih untuk tidak mengejarnya. Dia tidak mengatakan apakah dirinya berencana menjadi lajang atau membina hubungan dengan perempuan.