“Kita tidak bisa mengubah orang lain, seperti Tuhan yang juga tidak bisa mengubah semua orang meskipun telah ada alkitab atau kitab suci yang dimiliki setiap manusia,” ucapnya.

Menurut psikolog yang kerap disapa Vera ini pun, orang yang melakukan body shaming atau mengatakan pernyataan yang menyakitkan bisa jadi karena masa lalu yang dia miliki tidak indah dan pahit. Lingkungan pertumbuhan pun memiliki peran yang dapat memengaruhinya jadi orang yang suka menghakimi orang lain (judging), sehingga secara tidak langsung dia telah gagal mencintai dirinya sendiri.
Baca juga: Beredar Foto Perempuan Indonesia Menikah dengan Pria Korea, Oppa-nya Pakai Peci Bikin Gemas!
“Kita bukan hanya perlu belajar mencintai diri kita, tapi juga mencintai orang lain. Bantu orang lain menyadari Anda mencintainya tanpa syarat. Jadi, dia paham kalau cinta itu tidak berkorelasi pada pernyataan yang nyelekit,” imbuhnya.