
Imani mengatakan, orang-orang normal tentu tidak akan keberatan jika sedotan plastik tidak lagi digunakan, karena itu tidak banyak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari mereka. Sebaliknya, kebijakan ini bisa sangat berarti bagi mereka yang tidak bisa menggunakan tangan dan harus bergantung pada seseorang atau pengasuh.
"Semua alternatif ini sangat problematik dan menciptakan situasi di mana nasib para penyandang disabilitas berada di tangan orang lain," jelasnya.
Sementara itu, kertas sedotan yang dijadikan alternatif dianggap tidak berfungsi secara maksimal karena mudah robek, dan sangat berbahaya karena bisa membuat seseorang tersedak.
"Beberapa orang juga alergi ketika menggunakan sedotan kertas. Bentuknya juga tidak proporsional dan tidak dapat menjaga suhu minuman dengan baik. Sementara itu, sedotan berbahan logam, bambu, dan silikon juga memiliki risiko yang cukup tinggi, dan tidak dapat menahan susu tertentu," tukas Imani.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.