Lebih lanjut, menurut penuturan Luh, dalam perjalanannya anak dengan sindroma down mempunyai modal masing-masing, tidak ada satu anak yang sama kemampuan dan kondisinya. Tugas tim kesehatan dan orangtua hanyalah menemukan modal yang bisa dikembangkan dalam diri anaknya.
(Baca Juga: Mau Gigi Tetap Sehat? Hentikan Kebiasaan-Kebiasaan Mengasyikkan Ini!)
"Ada tiga vitamin untuk orang tua yang memiliki anak dengan sindroma down, yaitu vitamin C yang artinya cinta, vitamin S yaitu sabar, dan vitamin K yang berarti kreatif. Orang tua perlu kreatif untuk menyiasati cara menghadapi anak, karena tidak mudah," tuturnya.
Jadi, kesimpulannya menurut Luh, semuanya perlu proses belajar, tiap anak bisa memiliki pencapaian yang tidak sama. Sekolah anak juga berbeda sesuai dengan keadaannya, yang sebelumnya diperiksa dulu modal anak. Ada beberapa jenis sekolah luar biasa, seperti SLB A untuk anak yang tunanetra, SLB B khusus bagi anak tunarungu, SLB C untuk anak mengalami tunagrahita dengan disabilitas inteligensi di bawah rata-rata, SLB D bagi anak tunadaksa, dan lainnya.
"Ada mitos anak dengan sindroma down, tidak bisa memiliki hubungan (asmara). Itu tidak benar, karena mereka pun memiliki rasa senang dan sedih yang sama. Faktanya anak dengan sindroma down bisa menikah, berkencan, dan bahkan memiliki anak. Anak perempuan dengan sindroma down juga bisa melahirkan anak normal dan mengurus bayinya secara mandiri," papar Luh.
(Utami Evi Riyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.