"Setelah diperiksa memang dia mengalami gejala difteri sehingga kita mengambil selaput putihnya untuk dikirim ke laboratorium," jelas Azharuddin.
Setelah itu, penanganan dokter tersebut sama dengan penanganan atas pasien difteri lainnya. Katanya, perlakuannya sesuai dengan langkah-langkah dalam menangani pasien difteri. Pasien tersebut sudah diberikan ADS antibiotik selama delapan hari mendapat perawatan di rumah sakit Zainoel Abidin. Selanjutnya, pemberian antibiotik hanya tinggal dua hari lagi.
"Jadi dua hari lagi kita berikan antibiotik. Kita selalu ada parameter untuk mengukur kondisi perkembangan pasien, hasilnya ecg-nya sudah normal, kita akan memulangkannya pada hari ke-sepuluh," ujarnya.
Selama ini, Azharuddin menyebutkan bahwa dokter yang terkena difteri tersebut baru lulus dari Fakultas Kedokteran, jadi belum pernah bekerja di fasilitas kesehatan. Kendati demikian, pihak rumah sakit mencari sumber yang menyebabkan penularan difteri terhadap dokter muda itu.
(Baca Juga: Selain Menu Sarapan, Ini 5 Alasan Perlu Makan Buah di Pagi Hari)