Advertisement
Advertisement

Waspada! Kelelahan Terus Menerus Bisa Jadi Indikasi Aritmia

Waspada! Kelelahan Terus Menerus Bisa Jadi Indikasi Aritmia
Ilustrasi
A
A
A

Dengan kata lain, aritmia adalah irama yang bukan berasal dari nodus SA atau irama yang tidak teratur, sekalipun berasal dari nodus SA atau frekuensi kurang dari 60 kali/menit (sinus bradikardi) atau lebih dari 100 kali/menit (sinus takikardi).

Berdebar adalah gejala tersering aritmia, tetapi spektrum gejala aritmia cukup luas, mulai berdebar, keleyengan, pingsan, stroke, bahkan kematian mendadak. Dari segi kecepatannya, aritmia terbagi menjadi dua garis besar; bradiaritmia, detak jantung terlalu lambat dengan perhitungan 60 kali per menit (kpm), dan takiaritmia, detak jantung terlalu cepat lebih dari 100 kpm.

Aritmia yang paling sering terjadi adalah fibrilasi atrial (AF). Prevalensi AF di Indonesia sebesar 2,2 juta orang, dan 40% di antaranya mengalami stroke. Maka itu, Ketua Indonesia Heart Rhytm Society (InaHRS) tersebut menyarankan kepada masyarakat agar selalu waspada, mengingat aritmia dapat menyebabkan stroke lima kali lebih tinggi dibanding gangguan kesehatan lainnya.

“Jangan lupa lakukan Menari (meraba nadi sendiri) minimal sekali sehari setiap bangun tidur,” ucap dr Dicky. Caranya dengan meraba nadi di pergelangan tangan menggunakan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Cari posisi yang tepat sampai denyut nadi bisa dirasakan.

Setelah denyut nadi terasa, mulailah menghitung berapa kali nadi berdenyut dalam waktu 10 detik. Denyut nadi normal per 10 detik sebanyak 6-7 denyutan. Adapun denyut nadi tiap 1 menit bagi orang yang sehat dan bugar akan menghasilkan 60-95 denyutan. Angka ini termasuk normal.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement