“Kami tidak menutup mata bahwa di DKI Jakarta ini kasus gizi buruk masih ada. Mulai dari si bayi baru dilahirkan, usia awal kelahiran, atau juga pada masa pertumbuhan. Namun, yang mesti di garis bawahi di sini, ada beberapa kasus juga yang memang keluarganya tidak mampu sehingga asupan gizinya tidak tercukupi,” paparnya pada Okezone saat dihubungi melalui pesan singkat, Kamis (25/1/2018).
Koes, sapaan akrabnya, melanjutkan, kasus ini menjadi salah satu sorotan yang penting di bidang kesehatan di DKI Jakarta. Bagaimana tidak, pada beberapa kasus juga ada pasien yang mengalami gizi buruk karena berpenyakit. Sebut saja mereka yang mengidap TB atau HIV AIDS. Ya, dua kasus penyakit itu pun ada di Jakarta dan masalah itu pun memengaruhi gizi buruk manusia secara tidak langsung.
“Bisa dijelaskan kembali, dari beberapa kasus itu akhirnya kami pun bisa menyatakan bahwa masalah gizi buruk ini masih banyak kurang diketahui dan dimengerti oleh masyarakat perkotaan, salah satunya di Jakarta,” sambungnya.
Koes menegaskan bahwa kasus gizi buruk ini bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Tidak bisa hanya menyelesaikan masalah gizi buruknya itu sendiri, tetapi, ada masalah lain di belakang itu yang pada akhirnya juga akan berujung gizi buruk. Jadi, sudah pasti kasus seperti ini bukan hanya menjadi pekerjaan rumah Lembaga kesehatan pemerintah, tetapi juga membutuhkan bantuan dari sector lain. Saling bekerja sama mensejahterakan masyarakat!
Pada kasus gizi buruk, Koes coba memberikan contoh seperti ini