INDUSTRI kecantikan atau estetika di Indonesia tengah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal itu dibuktikan mulai bermunculan klinik kecantikan yang siap mengakomodir kebutuhan masyarakat. Tak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi digital ikut memengaruhi pola perilaku masyarakat di lingkungan sosialnya.
Menilik kebelakang, dulu hanya kaum wanita yang mendatangi klinik kecantikan untuk mengatasi masalah pada wajahnya. Namun sekarang, kaum pria pun juga rajin melakukan perawatan untuk wajah. Salah satu faktor yang mendorong perubahan perilaku ini adalah keinginan di masyarakat untuk diakui dan eksis di lingkungan sosialnya.
BACA JUGA:
"Pengaruh sosial media memunculkan tren di industri kecantikan. Adanya fitur real-time membuat masyarakat ingin tampil aesthetic, acceptable, dan attractive dari segala sudut," tutur dokter kecantikan, dr Lanny Juniarti, Dipl. AAAM dari MIRACLE Aesthetic Clinic Group.
Ditemui dalam acara "Aesthetic Outlook 2018", Kamis (11/1/2018) di kawasan Jakarta Selatan, dr Lanny mengatakan tren kecantikan terus mengalami perubahan dari masa ke masa. Dahulu kala banyak yang datang ke klinik kecantikan karena adanya masalah pigmentasi. Banyak perempuan yang ingin kulit dan wajahnya menjadi tampak putih karena menurutnya putih itu cantik.
Seiring berjalannya waktu, whitening bukan lagi menjadi masalah. Masuknya budaya Korea di Indonesia membuat wanita ingin tampil ala selebriti negeri ginseng tersebut. Mereka ingin memiliki dagu yang lebih lancip dan pipi yang tirus. Akan tetapi, berkembangnya teknologi mampu menciptakan aplikasi yang membuat wajah tampak seperti V-Shape.
Keinginan untuk memiliki bentuk wajah V-Shape mulai ditinggalkan karena kini media sosial menyediakan fitur real time seperti Insta Story, di mana video akan menangkap wajah sebagaimana adanya saat direkam. Hal itulah yang membuat masyarakat ingin tampil sempurna dari segala sisi. Berdasarkan hal tersebut, diperkirakan di 2018 akan muncul tren kecantikan baru yaitu "Reshape-Relift-Contouring".