BENTUKNYA segitiga, kalau dimakan terasa garing, dan rasa manis itulah dinamakan kue sapik. Kue sapik ini menjadi ciri khas bagi masyarakat Mentawai yang merayakan Natal dan Tahun Baru.
Sekali membuat, mereka bisa menghasilkan dua kaleng besar dan jugs tergantung pada cetakan dan bahan untuk membuat kue sapik. Hampir setiap rumah membuat kue ini, biasanya kue ini dibuat pada petang hari menjelang malam.
Kue ini bernama kue sapik lantaran untuk membuatnya dengan cara dijepit. Kemudian alat penjepitnya diletakkan diatas kompor yang menyala sekira 15 menit. Bahan yang sudah dijepit akan membentuk bulatan dengan motif bunga-bunga sesuai dengan motif cetakan. Kue yang sudah masak itu ada setebal 3 mililiter, kemudian dilipat menjadi berbentuk segitiga bahkan ada yang digulung.
(Baca Juga: Tradisi Tahun Baru di Belanda, Mulai dari Makan Donat hingga Menyelam Beramai-ramai)
“Untuk membuat kue sapik tersebut terlebih dahulu menyiapkan bahan berupa, tepung beras atau juga bisa tepung sagu, santan kelapa kemudian kuning telur ayam, gula, vanili, minyak fren, adas manis,” kata Kristina (59) warga Dusun Bat Joja, Desa Maileppet, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Lalu telur yang sudah ada dikocok dengan gula. Kalau sudah mengembang, lalu santan kelapa dan tepung beras diaduk menjadi satu, lalu vanili dan adas manis agar aroma harum. Jika sudah terpadu dan mengental tindakan selanjutnya menyiapkan cetakan kue sapik, namun sebelum melumuri bahan kue tersebut terlebih dahulu melumuri minyak manis agar kue yang dicetak tidak lengket di cetakan.