Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengunjungi Situs Paling Mempesona di Norwegia Sambil Belajar Jadi Pendaki Bijak

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |10:41 WIB
Mengunjungi Situs Paling Mempesona di Norwegia Sambil Belajar Jadi Pendaki Bijak
A
A
A

Secara nasional, Norwegia telah mengalami peningkatan jumlah turis sebesar 11% dari tahun 2015 ke 2016. Di beberapa daerah, peningkatannya mencapai 32%. Jelas, kondisi ini bagus untuk ekonomi. Namun, di sisi lain peningkatan jumlah turis juga menjadi ancaman bagi berbagai aturan kuno Norwegia.

"Kami bangga dengan banyaknya yang menerapkan allemansratten di sini. Namun, masalahnya ramainya orang ini mengakibatkan situasi yang berbahaya," kata Indrearne sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Norwegia belum pernah mengatur-ngatur pendakian sebelumnya. Namun, saya yakin Trolltunga akan jadi salah satu situs pertama yang akan diregulasi. Ini akan jadi kontroversi besar," tambahnya.

Tisu toilet bekas, sisa lauk-pauk, tenda yang sudah rusak, botol plastik, banyak ditemukan di Trolltunga. Bahkan banyak pengunjung yang menulis nama mereka dengan pulpen hitam di tebing. Dan dengan semakin banyak orang yang mendaki tanpa persiapan, kelompok pendaki kenamaan Norwegia, Friluftsliv, meminta agar jumlah pendaki ke Trolltunga untuk dibatasi.

Pembatasan dianggap penting karena berkaitan dengan keamanan.

"Banyaknya orang yang naik ke sini membuat alam seakan berhenti bertumbuh," kata Indrearne.

Di hari sibuk, pendaki harus menunggu sampai satu setengah jam untuk berfoto. Itu juga yang menjadi alasan Friluftsliv menyarankan adanya pembatasan jumlah orang yang naik setiap harinya. Jam pendakian juga harus diatur, jangan sampai terlambat dan pendakit terjebak di sini. Pengunjung juga diharapkan mendaki dengan bantuan pemandu.

Pagi besoknya, Jacqueline dan saya mulai turun sejauh 13,5 km. Sebuah helikopter mendesing keras dan terbang rendah, mencari seorang pendaki yang hilang. Kami berjalan melewati orang-orang yang keletihan mengantre untuk berfoto. Beberapa hanya mengenakan celana pendek, padahal suhu 5C. Selain itu ada juga yang mendaki dengan sepatu sneakers.

 

Kami sempat mengantre sebentar. Lalu saya kemudian bertanya kepada Jacqueline, "masih mau ngantre untuk foto?" "Nggak," katanya. "Nggak terlalu sih. Aku lebih tertarik melihat pemandangan di sepanjang penurunan."

Kami berdua mengangguk setuju, dan langsung turun menikmati alam Norwegia yang jauh lebih beragam, di manapun titiknya, sambil mengingat aturan fjellvettreglene. (ris)

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement