PEMERINTAH melalui Kementerian Kesehatan saat ini tengah gencar mengimbau masyarakat khususnya pelajar untuk mendapatkan vaksin difteri. Difteri adalah infeksi bakteri serius yang dapat memengaruhi selaput lendir di hidung dan tenggorokan. Penyakit ini bisa menyebabkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar, dan lemas.
Melansir Mayo Clinic, Senin (11/12/2017), penyakit ini berisiko tinggi menyerang anak-anak dan orang dewasa yang sebelumnya tidak mendapatkan vaksin difteri. Selain itu, masyarakat yang tinggal di wilayah epidemik dan berkunjung ke sana juga memiliki faktor risiko. Saat ini, penyebaran difteri rentan terjadi di negara berkembang karena tingkat vaksinasi yang rendah.
BACA JUGA:
Berdasarkan data dari Kemenkes, di Indonesia sebanyak 20 provinsi telah melaporkan adanya kejadian luar biasa (KLB) penyebaran difteri. Dari laporan tersebut, jumlahnya mencapai 593 kasus di mana 32 kasus di antaranya berujung kematian. Penyakit ini sebenarnya bisa dicegah dengan pemberian vaksin. Namun sayang, tingkat kesadaran masyarakat akan hal itu masih kurang terlebih ada anggapan bahwa vaksin itu haram.
Padahal bila tidak dicegah dan tidak segera diobati, difteri bisa berakibat fatal. Berikut beberapa komplikasi yang bisa terjadi bila seseorang terkena penyakit tersebut;
Masalah pernapasan
Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan toksin yang merusak jaringan di daerah infeksi langsung. Mengingat biasanya difteri terjadi di hidung dan tenggorokan, maka dari itu tak heran bila penyakit tersebut menyebabkan masalah pernapasan. Biasanya, di area yang terkena penyakit akan terdapat membran berwarna abu-abu yang tersusun dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya. Membran itulah yang menghalangi pernapasan.