Saat menelusuri sungai fokuskan pandangan ke semua sisi. Lihat indahnya burung-burung yang terbang di atas kepala, lihat ke sungai yang sesekali dangkal hingga tampak ikan-ikan, dan rasakan semilir angin sejuk.
Setelah melihat pemandangan alam yang indah, dan menelusuri sungai sekitar 15 menit menggunakan perahu bensin sampailah di separuh perjalanan. Titik berhenti perahu ada dua.
Pertama di tengah perjalanan yaitu tumpukan batu kapur besar yang menghias sungai. Batu-batu kapur itu tersusun acak di tengah sungai, sebagian ditumbuhi tanaman. Pengunjung bisa rehat sejanak untuk main air atau mandi merasakan dinginnya air sungai yang jernih.
BACA JUGA:
Batu-batu kapur tersebut bukanlah batu asli dari sungai. Namun, bebatuan itu ada karena gempa vulkanik. "Tahun 1996, terjadi gempa dasyat yang mengguncang Papua. Batu-batu kapur itu jatuh ke sungai. Ukurannya besar-besar," ucapnya sambil mengenang.
Setelah ada batu yang berjatuhan di gunung, perjalan di sungai jadi sedikit terhambat menuju pemberhentian akhir, yaitu Air Terjun Wardo yang tingginya 12 meter.
"Untuk sampai ke air terjun harus bawa perahu kecil, jadi menyebrang pakai perahu lagi. Tambah waktu tempuh 45 menit. Tapi kalau mau sampai batu saja boleh balik lagi," tukasnya.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.