Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya.
Lantaran memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng seringkali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun. Lantas, mengapa masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Bali, dan Madura, menggunakan tumpeng sebagai simbol rasa syukur?
Menurut tradisi Islam di Jawa, ‘tumpeng’ merupakan akronim dari bahasa Jawa, yaitu yen metu kudu sing mempeng, yang memiliki arti kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Warna nasi kuning atau putih pada tumpeng juga memiliki arti khusus. Kuning ditandai dengan warna emas, simbol kemuliaan yang megah. Sedangkan, warna putih selama ini diketahui sebagai sebuah simbol kesucian.
Biasanya, lauk pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini bukan tanpa alasan, angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, yang berarti adalah pitulungan (pertolongan).
Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal. Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.