Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: 3 Kain Tradisional Selalu Digunakan saat Upacara Adat & Keagamaan, Coraknya Menentukan Status Sosial

Devi Setya Lestari , Jurnalis-Minggu, 10 September 2017 |11:05 WIB
OKEZONE WEEK-END: 3 Kain Tradisional Selalu Digunakan saat Upacara Adat & Keagamaan, Coraknya Menentukan Status Sosial
Tenun doyo (Foto:Indonesiakaya)
A
A
A

KEKAYAAN budaya Indonesia salah satunya bisa dilihat dari cantiknya ragam kain tradisional. Bukan hanya berupa selembar kain penutup badan, kain-kain tradisional Indonesia juga memiliki corak yang menentukan status si pemakai kain.

Zaman dahulu hanya orang-orang dengan gelar bangsawan dan orang terpandang saja yang bisa mengenakan kain tradisional dengan motif khusus. Hal ini lantas membuat kain tradisional jadi alat tolak ukur tingkat kedudukan seseorang di lingkungannya. Meski kini kain tradisional bisa dipakai siapapun dan dalam momen apapun, tapi saat upacara adat pastilah bisa dibedakan sesuai motif kainnya.

BACA JUGA:

OKEZONE WEEK-END: Mengandung Mistis Motif Batik Parang Rusak Konon Kabarnya Terinspirasi dari Pantai Selatan Jawa

OKEZONE WEEKEND: Anggunnya Aktris Indonesia Tampil dalam Balutan Kain Nusantara, Dian Sastro Gunakan Cara Tradisional!

Kain Tapis, Lampung

Berbeda dengan tenun atau batik yang bisa dipakai oleh semua gender, maka tain tapis hanya bisa dikenakan oleh kaum hawa. Kain tapis dibuat dengan cara menyulam kombinasi benang kapas dengan benang emas dan benang perak. Kombinasi ini menjadikan kait tampak mewah.

Semakin sulit motif dibuat maka semakin tingginya kedudukan seseorang. Belum lagi jika kain tapis dibuat dengan motif terbatas yang mengandung filosofi kepemimpinan.

BACA JUGA:

OKEZONE WEEK-END: Happy Salma Padukan Batik Jawa dan Baju Kebaya Bali di Setiap Aktivitasnya, Semakin Cantik!

OKEZONE WEEKEND: Obin Hingga Lenny Agustin, Desainer Indonesia yang Fokus Angkat Kain Tradisional dalam Koleksi Rancangannya

Kain Gringsing

Kain ini merupakan kain tradisional asal Desa Tenganan Bali. Saking uniknya, kain ini merupakan tenun satu-satunya asal Indonesia yang dibuat dengan menggunakan teknik double ikat. Prosesnya yang sulit memengaruhi lamanya pengerjaan. Sehelai kain gingsing kabarnya dibuat selama 2 hingga 5 tahun.

Saat upacara adat, seperti upacara potong gigi, pernikahan dan upacara keagamaan, orang yang mengenakan kain ini akan dipandang terhormat. Proses pembuatannya yang lama menjadikan jumlah tenun ini sangat terbatas dan hanya dimiliki oleh segelintir orang berpengaruh dalam keseharian masyarakat.

Tenun Doyo

Kain tenun tradisional ini berasal dari suku Dayak Benuaq Tanjung Isuy, Kutai, Kalimantan Timur. Masyarakat masih sangat menjaga kearifan lokal di sekitar, termasuk pada lembaran kain tenun khasnya. Kain tenun doyo terbuat dari serat tanaman doyo, bukan dari serat benang seperti pada umumnya. Proses panjang ini membuat tenun doyo tidak bisa dimiliki secara leluasa. Tetua adat biasanya mengenakan tenun doyo sebagai pakaian kebesaran sekaligus kebanggan.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement