Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Tenun Manggarai Desa Wae Rebo NTT, Warna Kain yang Mencolok Jadi Pemikat para Wisatawan

Annisa Aprilia , Jurnalis-Minggu, 10 September 2017 |10:15 WIB
OKEZONE WEEK-END: Tenun Manggarai Desa Wae Rebo NTT, Warna Kain yang Mencolok Jadi Pemikat para Wisatawan
Foto: suryakantaimaji
A
A
A

NUSA Tenggara Timur, menjadi salah satu pulau eksotis yang dimiiliki Indonesia. Salah satu daerah yang tidak boleh dilewatkan ketika berlibur ke NTT ialah Desa Wae Rebo.

Desa yang masih mempertahankan wisata budaya ini, sebagian besar mata pencaharian warga desanya ialah bertani kopi, mencari madu di hutan, menenun, dan juga mendapatkan uang dari turis-turis yang datang dari dalam negri atau pun mancanegara yang menginap.

Foto: Desa Wae Rebo - klikmanianet

Kegiatan menenun kain sampai sekarang masih dilakukan dan hasil tenunnya dijadikan souvenir bagi turis-turis yang datang dan ada pula yang dipakai untuk kegiatan warganya sehari-hari. Motif tenun yang ada di Desa Wae Rebo pun berbeda dari daerah yang ada di Flores lainnya, karena setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing.

BACA JUGA: Foto-Foto Konyol yang Bisa Jadi Inspirasi saat Liburan

Ciri khas tersebut merupakan cerminan dari filosofii motif pada kain, Desa Wae Rebo memiliki kain tenun yang bermotif Manggarai dan memiliki warna yang lebih cerah. Motif Manggarai, yang menyerupai bunga memiliki warna yang mendominasi, seperti hijau terang, jingga terang, biru terang, kuning terang, dengan warna dasar hitam.

Untuk pewarnaan kain tenun, masyarakat Desa Wae Rebo sudah ada yang menggunakan proses pewarnaan yang tidak lagi tradisional. Jadi, ada pewarnaan yang sudah terpengaruh oleh dunia luar. Namun, masih ada beberapa yang menggunakan pewarnaan dari alam.

Rumah-rumah Desa Wae Rebo berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang, di setiap rumah ditinggali oleh delapan hingga sembilan kepala keluarga. Di dalam rumah tersebut ada sebuah dapur dan ada kamar-kamar yang tersedia. Setiap kamar tersebut dihuni oleh satu keluarga.

Makna rumah ini agar masyarakat Wae Rebo terbiasa hidup berdampingan dan tidak saling berselisih. Setiap rumah yang ada di Desa Wae Rebo, biasanya ada mamak-mamak yang menenun. Mereka sudah diajarkan membuat kain sejak umur sekira 14 atau 15 tahun, bagi anak perempuan.

Baca Juga: Berniat Beli Rumah dengan Fasilitas Bandara? Syaratnya Harus Punya Hobi Ini

Lama pengerjaan satu kain diselesaikan dalam kurun waktu yang beragam. Untuk yang berukuran kecil biasanya diselesaikan dalam kurun waktu satu minggu. Sedangkan, untuk kain yang seperti sarung dan dapat digunakan sebagai bawahan, biasanya tiga hingga lima bulan pengerjaan.

Jadi, lama dari proses penenunan tergantung dari ukuran kain, semakin besar artinya proses penenunan semakin lama. Proses penenunan juga tergantung dari kegiatan mamak-mamak yang mengerjakan karena mereka tidak hanya beraktifitas menenun kain, tapi juga berkebun, menjemur kopi, jadi tidak menenun 24 jam.

Foto: iqbalkautsarcom

Cara menjual hasil tenunan tersebut dijual di rumah yang dikhususkan sebagai tempat penjualan souvenir khas Desa Wae Rebo, seperti kain tenun tersebut. Jadi, kalau ada wisatawan yang tertarik untuk membeli bisa langsung ke rumah itu.

“Harga kain tenun juga tergantung dari ukuran kain. Untuk ukuran kain yang paling kecil seperti yang bisa digunakan sebagai ikat kepala biasanya dihargai mulai dari Rp200 ribu dan yang besar seperti sarung itu mulai dari Rp500 ribu,” ucap Febrian, Traveler yang diwawancarai Okezone melalui sambungan telepon, Kamis (7/9/2017).

Baca Juga: Ya Ampun, Wanita Aljazair Rela Menahan Sakit karena Tato di Wajah demi Dipuji Cantik

Sebelum menenun tidak ada ritual tertentu yang harus dilakukan mamak-mamak penenun. Tapi, sebelum masuk ke Desa Wae Rebo, para wisatawan harus melalui serangkaian adat, seperti masuk ke rumah Mbaru Niang utama, yaitu Rumah Gendang, bertemu dengan kepala adat, nanti akan diberikan pengarahan dan izin, baru turis tersebut boleh beraktifitas di desa dan dianggap bagian dari masyarakat Desa Wae Rebo, ada juga peraturan seperti tidak boleh memberikan uang ke anak-anak.

(Ade Indra Kusuma)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement