Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Keindahan Kain Papua, Tampilkan Motif Alam dan Budaya Khas Bumi Cenderawasih

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Sabtu, 09 September 2017 |18:30 WIB
OKEZONE WEEK-END: Keindahan Kain Papua, Tampilkan Motif Alam dan Budaya Khas Bumi Cenderawasih
Batik Papua (Foto: Ayahucan)
A
A
A

MASYARAKAT Indonesia lebih familiar dengan kain batik asal Pulau Jawa. Anggapan tersebut sepertinya harus mulai dihilangkan. Sebab, sekarang harus Anda ketahui bahwa hampir di semua wilayah Indonesia punya kain tradisionalnya masing-masing.

Bicara keindahan kain? Jangan ditanya! Karena Indonesia itu adalah negara yang kaya akan budaya dan alamnya, tentu motif, corak, warna kain setiap wilayah punya cirinya tersendiri. Siapa sangka, kain Papua adalah salah satu yang paling “berbeda”. Seperti mendobrak pakem kain batik di Jawa, kain papua cukup berbanding terbalik dengan kain yang ada di dataran Jawa.

Apa keistimewaan kain Papua?

Secara kasat mata, kain Papua berwarna cerah dan diramaikan motif budaya dan alam yang sangat khas. Tentunya itu menjadi keunikan tersendiri untuk menarik perhatian masyarakat. Berbanding terbalik dengan kain batik khas Jawa yang cenderung berwarna gelap atau redup. Begitu juga dengan susunan motifnya, kain Papua kebanyakan memilih disain asimetris.

(Foto: Youtube)

Bicara mengenai motif batiknya, kain Papua biasanya terinspirasi dari keindahan alam Papua. Mulai dari pola flora yang ada di Papua sampai burung Cenderawasih sebagai hewan endemik khas Papua. Secara garis besar, ada tiga macam motif batik Papua, motif Kamoro, Asmat, dan Sentani.

Dijelaskan lebih lanjut, motif Kamoro adalah perlambang patung berdiri. Kemudian, motif Asmat adalah simbol patung kayu khas Suku Asmat. Satu yang tak kalah spesial adalah motif Sentani, di mana motif tersebut menggambarkan alur batang kayu yang melingkar. Umumnya, motif tersebut terdiri dari dua warna. Tetapi, tak jarang ada juga yang hanya menggunakan satu warna.

(Foto: Kamerabudaya.com)

Nah, bicara warna yang biasanya dipakai untuk kain Papua, pengamatan Okezone, kebanyakan para pembuat kain Papua lebih suka menggunakan warna merah, kuning, atau hijau. Warna-warna tersebut tidak dipakai hanya di motif batiknya, tetapi menjadi warna dasar kain. Yang mana, berarti secara kasat mata warna cerah tersebut mendominasi kain Papua.

Baca Juga:

Kemudian, perlu Anda ketahui, pada beberapa kain Papua, pengrajin kain menggunakan sutra sebagai bahan utama kain. Selain menggunakan sutra, pengrajin kain Papua juga biasanya menggunakan kain shantung. Ini juga yang akhirnya membedakan kain Papua dengan kain wilayah lain. Ada juga beberapa pengrajin kain Papua yang menggunakan kain tissue dan katun sebagai bahan dasar pembuatan kain Papua.

Sementara itu, mengenai macam batik Papua sendiri, ternyata dibagi menjadi dua jenis. Adalah batik Prada dan batik biasa. Perbedaan yang mendasar dari kedua jenis batik Papua ini adalah penggunaan benang emas. Jadi, batik Prada menggunakan benang emas, sedangkan batik biasa tidak. Perbedaan tersebut tentunya yang kemudian membedakan harga dari dua jenis batik Papua ini.

Eits! Tidak sampai di situ, bukan hanya batik khas Papua, ternyata ada kain tenun khas Papua. Namanya Tenun Ikat Timor. Kain tenun Papua ini muncul pertama kali di Sorong, Papua Barat. Diketahui, Suku Maybrat atau penduduk asli papua itu lah yang membuat kain tenun ini pertama kali. Awalnya Tenun Ikat Timor digunakan sebagai sarung tenunan biasa.

(Foto: Pinterest)

Lebih lanjut, budaya menenun di Papua masuk sekitar 1700-an. Menurut informasi yang didapat, budaya tersebut dibawa para misionaris dan guru dari Nusa Tenggara Timur. Bahkan, sampai sekarang tradisi menenun masih banyak diterapkan orang tua kepada anaknya.

Baca Juga:

Penggunaan kain tenun di Papua biasanya untuk menghadiri pesta adat atau dipakai sebagai pakaian sehari-hari. Bahkan kain tenun ini juga dipergunakan sebagai seserahan mas kawin yang paling bergengsi dan mahal di kalangan masyarakat Sorong. Jadi, jika ada keluarga yang memiliki banyak kain tenun, apalagi yang sudah berusia ratusan tahun, maka status sosial mereka bisa dikatakan semakin tinggi. Menarik, ya!

Karena masyarakat Papua cukup menghormati usia kain, tak heran bila harga selembar kain berusia ratusan tahun itu bisa mencapai ratusan juta rupiah. Meski begitu, kain tetap saja banyak diminati pembeli. Ya, alasannya karena usia si kain itu sendiri.

Perlu Anda ketahui, bagi beberapa sub-suku yang tinggal di wilayah Maybrat, menilai keberadaan Tenun Ikat Timor sangat melekat dalam setiap aspek kehidupan masyarakat adat, sekaligus menjadi barang yang sangat berharga karena bernilai sakral.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement