Pihak desa mendukung sepenuhnya kreativitas warga, hal ini dibuktikan dengan pembiayaan pembuatan delapan balon udara yang menghabiskan biaya Rp5 juta. Meskipun hadiah yang didapatkan tidak sebanyak biaya yang dikeluarkan, dirinya tetap senang karena bisa mengharumkan nama desa dengan menyabet tiga piala.
Dalam pelaksanaan festival balon udara ini, kata Barno, masih perlu banyak pembenahan. Menurut dia, lokasi antartim terlalu sempit dan berdekatan sehingga membuat balon udara yang terbang kerap bertabrakan dengan yang lain.
“Harusnya tempatnya tidak berdekatan seperti itu. Padahal ukuran setiap balon udara kan berbeda-beda dan terbukti saat diterbangkan banyak yang bertabrakan. Mungkin untuk festival selanjutnya lokasinya bisa lebih luas,” terang dia.
Mengenai pengelolan event perlu diperbaiki lagi supaya bisa menyedot wisawatan dari berbagai daerah. Barno menganggap festival balon udara ini cukup menarik dan bisa menjadi event wisata tahunan. Namun, untuk pengelolaan dan lokasi juga harus diperbaiki supaya lebih menarik.
“Saya mendesak pemerintah juga membuat aturan mengenai balon udara yang diperbolehkan untuk diterbangkan. Kalau sudah ada aturan, masyarakat kan enak untuk menerbangkan balon udara saat Lebaran dan tidak takut diciduk polisi,” terang dia.