(Baca Juga: 7 Wisata Non-Mainstream yang Bisa Dinikmati di Bali)
Pelepasannya di areal itu dilakukan dengan ritual khusus, sekaligus menegaskan kepada warga Desa Adat Bugbug agar tidak memburunya. “Melihat bentuknya yang aneh, hewan ini seperti bedawang nala. Kita juga akhirnya menyebutnya dengan nama bedawang nala,” katanya.
Secara niskala, Jro Wayan Mas Suyasa melihat kemunculan hewan misterius ini sebagai pertanda baik bagi desa. Hewan “bedawang nala” itu, melambangkan kurma awatara.
Dalam kisah watugunung juga disebutkan bahwa badawang berupa seekor kurma yang berkuku kuat, berlidah cakra, bertaring tajam, suligi atau berbelai bajra yang amat utama dan amat dasyat wujud kura-kura itu serta besar badannya. Kemunculannya di Desa Adat Bugbug, sebagai pertanda anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena Desa Adat Bugbug sejak dulu sampai sekarang mampu menjaga segala tradisi ritual keagamaan sebagai salah satu desa tua di Bali.
Desa ini mampu mempertahankannya di tengah modernitas dan upaya menyeragamkan ritual keagamaan di setiap desa di Bali. Dia mengaku paling tidak setuju adanya penyeragaman ritual atas dasar apapun, karena masing-masing desa punya cara sendiri.