KOPI masuk ke tengah-tengah masyarakat Indonesia sejak dibawa oleh bangsa Belanda. Setelah masa kerajaan berakhir dan agama Islam masuk ke Indonesia, kopi pun turut ambil bagian jadi salah satu yang dipersembahkan bagi roh para leluhur. Kehadiran kopi dalam sajen yang kerap disajikan pada roh leluhur menggantikan posisi tuak, karena dianggap sebagai minuman yang dilarang bagi umat Islam. Untuk itu, dipilihlah kopi hitam untuk menggantikan tuak.
Tradisi mempersembahkan sajen merupakan warisan dari zaman kuno yang diturunkan oleh orang tua pada anak cucunya. Persembahan sajen yang berisi kopi di dalamnya mengiringi keyakinan masyarakat, yang menganggap arwah leluhur seringkali pulang dan mengunjungi rumah untuk menjenguk sanak keluarga dan anak cucunya, bahkan hingga kini sebagian masyarakat Indonesia masih melakukan persembahan sajen tersebut dan meyakininya.
Jenis kopi yang digunakan untuk menyambut roh para leluhur biasanya jenis kopi hitam. Untuk rasa tidak terikat harus manis atau pahit. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan tradisi atau kebiasaan yang dianut oleh daerah masing-masing, tergantung dari ajaran orang tua terdahulu.
“Untuk kopi yang dipersembahkan tidak harus rasa manis atau pahit. Tapi, bisa keduanya atau salah satunya. Itu memang sudah jadi keyakinan. Persembahan sajen dilakukan berasal dari keyakinan, bahwa arwah leluhur itu seringkali pulang ke rumah untuk menjenguk anak cucunya dan sebagian masyarakat Indonesia masih meyakininya, oleh karenanya dikasihlah sajen itu,” ucap H. Drs. K. Ng. Agus Sunyoto, ketika diwawancarai Okezone, Kamis (24/8/2017), melalui sambungan telepon.
Adapun tujuan dari mempersembahkan sajen, yang merupakan warisan dari tradisi zaman kuno tersebut ialah agar roh para leluhur yang mengunjungi dan kembali pulang ke rumah untuk sementara waktu tersebut dapat merasakan dirinya masih diingat, dihormati, dihargai dan disambut oleh anak-cucunya. Hal itu juga dikatakan oleh H. Drs. K. Ng. Agus Sunyoto yang terkenal dengan karyanya berjudul Atlas Wali Songo.
“Jadi, saat mengunjungi rumah itu arwah leluhur dapat merasakan dirinya masih diingat dan dihormati oleh anak cucunya, dari penyambutan yang dilakukan dengan sajen tersebut,” ucapnya.
Sajen biasanya disajikan hanya semalaman saja, tepatnya ketika masuk Kamis malam Jumat dan pada acara semacam kenduri. Para orang tua mulai menyiapkan sajen selepas adzan magrib. Sajen biasanya berisi kopi hitam hangat, kembang tujuh rupa, makanan yang berunsur beras, seperti kue apem, lontong, ketupat, dan tidak lupa juga memasukkan unsur kelapa di dalamnya.
Tradisi mempersembahkan sajen ini telah diturunkan oleh para orang tua sejak zaman kuno hingga pada tahun 70an akhir, para penerus sudah mulai melunturkan kebiasaan dari tradisi yang tadinya dilakukan oleh para orang tua mereka. Hal tersebut pula yang diceritakan oleh Agus Sunyoto dalam wawancara yang dilakukan.
“Kalau sampai tahun 70an itu masih dilakukan mempersembahkan sajen setiap Kamis, malam Jumat oleh para orang tua. Tapi, sekarang sudah jarang dilakukan, kecuali ketika ada acara-acara tertentu seperti kenduri, selametan, atau hajatan dan pesta-pesta tradisional lainnya seperti khitanan, barulah masyarakat menyajikan sajen itu termasuk kopi, untuk roh para leluhurnya yang diyakini kembali mengunjungi rumah,” tambahnya.
(Ade Indra Kusuma)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.