Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Selain Batik, Indonesia Punya Kain Tenun yang Patut Jadi Kebanggaan

Annisa Amalia Ikhsania , Jurnalis-Sabtu, 19 Agustus 2017 |10:11 WIB
OKEZONE WEEK-END: Selain Batik, Indonesia Punya Kain Tenun yang Patut Jadi Kebanggaan
Tenun (Foto: Ist)
A
A
A

KHASANAH wastra Nusantara atau kain tradisional Indonesia memang sungguh beragam. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki kain khas tersendiri, begitu pula dengan kain tenun.

Berbeda dengan kain batik, tenun merupakan teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan prinsip sederhana, yakni menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Atau dengan kata lain tenun dihasilkan dari bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian. Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya.

Yang membedakan kain tenun dan songket, yaitu teknik pembuatan, lama pengerjaan, dan alat yang digunakan. Secara umum, kain songket dibuat dari benang pakan dan lungsin yang posisinya bebas dan terletak mendatar pada bahan kain. Sementara, tenun benang lungsin dibuat dalam posisi tegak lurus atau vertikal pada selembar kain.

Hadir dengan beragam warna, corak, dan ciri khasnya kain tenun bisa semakin memperkaya budaya Indonesia. Yuk, kenal lebih dekat dengan kain tenun Indonesia, sebagaimana dirangkum Okezone dari berbagai sumber.

BACA JUGA:

Kain Tenun Enggak Boleh Terlalu Sering Dicuci! Ini Alasannya

Sambut Lebaran, Kain Tenun Bisa Membuat Tampilan Anda Outstanding!

Tenun Tanimbar

Salah satu kain tenun yang terkenal berasal dari sisi timur Indonesia. Adalah tenun ikat Tanimbar dari wilayah Tanimbar di Maluku Tenggara Barat. Tenun asal Tanimbar memiliki ciri khas di mana corak dan motifnya menggambarkan aktivitas, kebiasaan, serta adat istiadat yang berlaku di kawasan tersebut.

Pada Tenun Ikat Tanimbar terdapat banyak corak atau motif yang menurut masyarakat setempat mengandung nilai-nilai adat dan bermakna luhur yang menunjukkan jati diri masyarakat Tanimbar. Tenun ikat Tanimbar hingga kini paling tidak memiliki 47 motif. Di antaranya adaah motif sair, motif bunga anggrek, motif tunis, dan motif bulan sabit.

Tak hanya digunakan sebagai kebutuhan sandang. Tenun ikat Tanimbar juga dimaknai sebagai amanah dalam upacara adat, misalnya upacara pernikahan. Seiring berkembangnya zaman, tenun ikat Tanimbar juga digunakan dalam acara-acara pemerintahan, seperti penjemputan tamu, tarian, hadiah untuk tamu berkunjung, dan lainnya.

Tenun Gringsing

Kain gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun. Kain ini berasal dari Desa Tenganan, Bali. Umumnya, masyarakat Tenganan memiliki tenun gringsing berusia ratusan tahun yang digunakan dalam upacara khusus.

Kata gringsing sendiri berasal dari gring yang berarti 'sakit' dan sing yang berarti 'tidak', bila digabungkan menjadi 'tidak sakit'. Maksud yang terkandung dalam kata tersebut, yakni menyerupai penolak bala. Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain dilakukan menggunakan kain gringsing.

Tenun Dayak

Motif kain tenun khas masyarakat Dayak di Kalimantan memang sangat cantik dan begitu populer. Rata-rata gambar dalam tenunan Dayak meruapakan ruang lingkup kehidupan manusia, namun tetap ada hubungannya dengan manusia, alam atas, dan alam bawah. Juga dengan alam sekitar, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.

Mengenai pola dasar gambar atau lukisan di kain tenun, dibuat berdasarkan tingkatan umur. Para gadis biasa belajar dari usia belasan tahun atau jelang akil baligh. Pola tenun yang paling sederhana yang diajarkan untuk anak gadis adalah gambar pakis.

Kemudian, rata-rata yang boleh menggambar berbentuk naga atau dewa adalah mereka yang sudah cukup umur, yakni 40-50 tahun ke atas. Karena dikhawatirkan bagi anak gadis jika membuat pola-pola gambar naga dan dewa tetapi jiwa mereka belum kuat bisa menjadi gila, sakit, hingga meninggal dunia.

Tenun Toraja

Penduduk Toraja biasa menggunakan Gonggon, alat tenun tradisional dari Toraja. Kain yang biasanya menggunakan warna merah, biru, hitam, putih, dan kuning ini menggunakan bahan serta pewarna yang berasal dari bahan alam yang ada di sekitar mereka. Sehingga kualitas kain yang dihasilkan lebih awet dan ramah lingkungan.

Tenun toraja biasanya bermotif segitiga dan memiliki corak menyerupai panah yang disusun berselang-seling dengan garis zig-zag membentuk pola geometris yang dramatis. Terdapat pula corak kait dan sekon yang merupakan stilasi dari gambaran tubuh manusia. Motif tenun toraja biasanya diperoleh dari meniru ukiran di Tongkonan, rumah adat Toraja, atau banyak juga yang terinspirasi dari upacara adat dan kehidupan di sekitar mereka.

Tenun toraja merupakan simbol khas keterikatan manusia dengan alam dan lingkungannya, tidak hanya merupakan motif fesyen masyarakat setempat, tenun toraja juga memegang peranan penting dalam berbagai upacara adat. Tenun toraja berfungsi sebagai simbol kemakmuaran dan kejayaan bagi para pemiliknya. Zaman dulu hanya orang-orang tertentu seperti bangsawan yang mampu memilikinya. Untuk dapatmemiliki kain-kain tersebut mereka harus menukarnya dengan hewan ternak, misalnya kerbau.

Tenun Sumba

Tenun sumba adalah salah satu bentuk seni kerajinan yang dihasilkan oleh kaum perempuan dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tenun sumba umumnya dibuat menggunakan bahan dan pewarna alami. Untuk membentuk motifnya, benang-benang diikat menggunakan daun gewang, yakni semacam daun palem, agar warna pada motif berbeda dengan warna dasar. Melalui pengerjaan yang penuh kesabaran, helai demi helai benang itu diberi ruh dan menjadi kain tenun indah. Hasil penjualannya kemudian dipakai untuk menghidupi keluarga.

Sementara, perihal pewarnaan, penenun kebanyakan memakai akar mengkudu untuk mendapatkan warna merah, biru dari nila, coklat dari lumpur, dan kuning dari kayu. Pembuatan kain bisa memakan waktu 6 bulan hingga 3 tahun. Selain menenun dan membuat motif, ada tahapan di mana kain harus diangin-anginkan selama sebulan sebelum dicelup dalam minyak kemiri.

Kain-kain tenun Sumba dibuat dalam warna dan motif beragam. Masing-masing motif memiliki arti khusus. Motif kuda misalnya, menggambarkan kepahlawanan, keagungan, dan kebangsawanan karena kuda adalah simbol harga diri bagi masyarakat Sumba.

Sedangkan motif buaya atau naga menggambarkan kekuatan dan kekuasaan raja, motif ayam melambangkan kehidupan wanita dan motif burung, umumnya kakatua, melambangkan persatuan. Selain itu, pada kain-kain yang kuno dijumpai pula motif mahang atau singa, rusa, udang, kura-kura, dan hewan lain.

BACA JUGA:

Kreasi Tenun yang Cocok untuk Sambut Ramadan

Uniknya Motif Tenun Tanimbar, Adiwastra Khas Maluku Tenggara Barat

Tenun Donggala

Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, memiliki tenun khas yang dalam bahasa Kaili disebut buya sabe atau kain sutra. Buya sabe memiliki tekstur yang agak kaku dengan warna-warna gelap, seperti ungu tua, merah hati, hitam, dan biru tua.

Awalnya, tenun donggala hanya boleh dipakai oleh kalangan bangsawan lantaran dianggap sebagai kain yang mewah. Namun, kini tenun donggala biasa digunakan oleh masyarakat setempat sebagai pakaian resmi untuk pesta dan upacara kematian, atau bahkan pakaian sehari-hari.

Terdapat beberapa jenis tenun yang dibuat oleh perajin tenun donggala. Buya bomba merupakan corak tenun yang paling terkenal berupa motif bunga-bunga. Motif ini menunjukkan sisi kain yang anggun dengan perpaduan warna yang berani. Ada lai motif pelekat garusu, buya sura, buya subi, bomba kota, serta buya awi yang polos dan biasa dipakai untuk alas meja.

(Dinno Baskoro)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement