Kemudian lanjut ke fakultas kedokteran di universitas Amsterdam, disinilah dirinya lebih intens tentang penyakit tropis. Lalu pindah ke universias Leiden, tak jauh dari Amsterdam yang mana Sardjito berhasil meraih gelar doktor pada 1923.
Di STOVIA lah jiwa nasionalismenya terbentuk. Bersama dengan dr. Wahidin, Sardjito pun menjadi anggota Budi Utomo dan siap berjuang dalam memerangi masa penindasan kolonial Belanda dan didapuk menjadi ketua Budi Utomo cabang Jakarta.
(Baca Juga: HARI MERDEKA: Mau Ikut Lomba Tarik Tambang? Perhatikan Risiko Kesehatan Ini Dahulu Ya!)
Pada masa perang kemerdekaan, pria kelahiran Magetan, Jawa Timur 13 Agustus 1889 ini turut berjasa dalam pelayanan kesehatan kepada para pejuang kemerdekaan.
Sardjito mengupayakan untuk penyediaan obat-obatan dan vitamin bagi prajurit. Dia juga membangun pos kesehatan untuk tentara di Yogyakarta dan sekitarnya, karena dia tahu betul bahwa aspek kesehatan prajurit sangat penting untuk diutamakan.