(Baca Juga: Metode Masak Nasi Putih dengan Minyak Kelapa Jauh Lebih Sehat, Kalorinya Rendah)
Selain menyediakan dan mendistribusikan obat, Kemenkes juga terus melakukan monitoring terapi Hepatitis C melalui pemeriksaan diagnostik dan evaluasi terapi. Monitoring ini dilakukan dengan cara tes cepat molekuler dan skrining HCV pada penderita HIV setidaknya satu kali setahun.
Penderita HIV memang termasuk kelompok yang berisiko tinggi terkena Hepatitis C. Kelompok lain yang berisiko terkena penyakit ini antara lain pengguna narkoba suntik, pasien yang melakukan cuci darah, terkena kontak darah dengan penderita Hepatitis C, pelaku hubungan seks tidak aman, dan yang lainnya.
Ditemui dalam acara yang sama, menurut dr Irsan Hasan SpPD-KGEH selaku Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) penyebaran virus Hepatitis C terjadi melalui kontak darah. Untuk itu cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah melakukan skrining pada kelompok yang berisiko tinggi.