Portugal marah
Selain karena kehilangan pulau-pulau baru, mereka sekarang tidak memiliki ruang lagi untuk melakukan manuver ketika melakukan perjalalan ke Afrika lantaran garis itu hanya berlaku 100 leagus (sekitar 320 mil) di barat Cape Verde.
"Portugis ingin untuk mempertahankan koloninya di Afrika (dan) pulau-pulau mereka di Atlantik," ujar Zalama.
(Baca Juga: Antisipasi Serangan Bajak Laut, Kapal Pesiar Mewah Menjelma bak Kapal Hantu)
"Garis ini mengejutkan karena mereka tidak bisa melayarinya sama sekali. Untuk berlayar, (mereka) butuh angin yang baik dan untuk memiliki angin semacam ini, seringkali dibutuhkan lingkaran yang sangat luas. Dengan tindakan ini, mereka tidak bisa karena (mereka akan menemukan diri mereka) di teritori Castilian."
Selanjutnya, sebuah pertukaran diplomatis yang membingungkan terjadi antara Portugal dan Spanyol. Kedua pihak sama-sama tidak ingin perang, namun keduanya mengatur dan mempertahankan armadanya selama perundingan.
Di tengah perundingan pada September 1493, Colón pergi untuk perjalanan keduanya memastikan kedaulatan untuk membantu negosiasi.
(foto: Instagram/@salvejorgao)
Ia mengatakan ini dalam janjinya pada April 1494 ketika ia mengirim sebuah peta atas temuannya. Namun karena ia tidak tahu bahwa John II sudah menyepakati untuk melanjutkan pembagian secara horizontal, ia palsukan peta tersebut.
Ia menaikkan latitude dari Hispaniola (sekarang Haiti/Republik Dominika) -pulau yang ditemuinya dalam ekspedisi pertamanya- beberapa derajat ke utara, meletakkannya pada garis paralel dengan Canary Islands, dan hal ini memasitkan dominion Spanyol paska Perjanjian Alcáçovas-Toledo.
Saat peta Colón tiba, Portugis telah menyepakati pembagian vertikal. Lebih banyak mempertimbangkan supaya bisa berlayar ke Afrika, John II hanya meminta agar garis itu dipindah ke 370 leagus (1.185 mil) ke barat Cape Verde.
Di bawah perjanjian tersebut, Portugal mendapatkan semua bagian timur dari garis it -lokasi dimana Cape Verde dan Afrika berada- sementara teritori Spanyol luas di barat garis itu dan termasuk temuan Colón baru-baru ini.
(Baca Juga: Haduh! Di Jepang Ada Kawanan Monyet Berendam di Kolam Air Panas)
Lantaran peta baru Colón tidak menunjukkan tanah koloni baru untuk demarkasi Portugis, Isabella dan Ferdinan menyutujuinya.
Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengetahui bahwa garis baru melewati bagian atas Brasil, dan, membuat bagian timur dari negara itu menjadi bagian dari Portugal.
Pada 1500, navigator Portugis, Pedro Álvares Cabral menemukan itu dalam perjalanannya dan mengklaim wilayah itu untuk rajanya. Dalam beberapa abad sesudahnya, Portugal mengembangkan pengaruhnya di darat dan Brasil menjadi satu-satunya negara berbahasa Portugis di benua Amerika.
Untuk sebagian besar orang Brazil [sekarang], Perjanjian Tordesillas berarti sebuah deklarasi bahwa raja Portugis bisa menguasai tanah Barat yang 'tidak diketahui'," ujar Anna Paula Torres Megiani, Profesor Sejarah Iberia di Sâo Paolo. "(Namun itu juga) sebuah momen kunci sejarah untuk memahami hubungan dari dominasi dan hegemoni antara Eropa dan dunia."
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.