TORDESILLAS mungkin tidak banyak diketahui banyak wisatawan dunia. Kota kecil ini terletak di pinggir sungai Duero di Provinsi Valladoid, Spanyol.
Kota ini memiliki Plaza Mayor yang terawat dan gereja yang dibangun pada abad pertengahan. Namun, jika Anda menyebut nama kota ini saat berada di São Paolo, Cargaena atau kota lain di Amerika dan Amerika Selatan, banyak yang akan mengenali kota ini.
(Baca Juga: Liburan Sendiri Ternyata Dapat Menambah Rasa Percaya Diri, Lho!)
Pada 1494, Spanyol (yang pada saat itu bernama Kerajaan Castile) dan Portugal membagi tanah yang belum juga mereka temukan dan lambat laun setelah perjanjian itu Brasil sebagai satu-satunya negara berbahasa Portugis di Amerika.
(foto: Instagram/@luciana_pma)
Lokasi kota ini mungkin yang menjadi sebab tempat ini menjadi lokasi yang pas untuk merundingkan perjanjian yang bersejarah, Perjanjian Tordesillas.
"Kota ini berada di persimpangan jalan yang sangat penting," ujar Miguel Angel Zalama, seorang profesor Sejarah Seni di Universitas Volladoid dan Direktur dari Tordesillas Center of Ibero-American Relations.
"Di situ juga terdapat sebuah istana (dan) semua yang mengindikasikan bahwa (perjanjian) itu ditandatangani di situ."
Namun keberadaaan lapangan pekerajaan dan kondisi geografis kota tersebut mungkin bukan satu-satunya alasan bagi Monarki Katolik, Isabella dari Castille dan Ferdinand dari Aragon, memilih kota tersebut.
"Dengan label 'sangat imajinatif, kuno, mewah, setia dan noble villa' (yang diberikan pada abad pertengahan), kota Castillian ini berhubungan erat dengan tradisi sejarah Portugal," jelas Ricardo Piqueras Céspedes, Profesor Sejarah di Universitas Barcelona.
"Pada abad ke-15, Ratu Maria dari Portugal dan Beatriz dari Portugal tinggal di situ. Sangat mungkin ini menjadi isyarat bahwa Portugis pernah lebih nyaman pada posisi netral semacam ini."
(foto: Instagram/@salvejorgao)
Isabella dan Ferdinand memiliki alasan yang bagus untuk menenangkan Portugal. Meskipun dirundingkan selama Mei hingga Juni 1494, proses Perjanjian Tordersillas memakan waktu satu tahun dalam ketidakpastian, dengan potensi perang yang sangat tinggi antara kedua negara dan kecemasan Spanyol atas negara jajahannya di seberang lautan Atlantik.
Jalan menuju perundingan perjanjian ini dimulai ketika, dalam perjalanan pulang dari tempat dimana ia kira sebagai India, kapal penjelajah Christopher Columbus menghadapi badai.
(Baca Juga: Haduh! Di Jepang Ada Kawanan Monyet Berendam di Kolam Air Panas)
Ia melempar jangkar di dekat Lisbon, dan meskipun perjalanannya disponsori oleh monarki Spanyol Ferdinand II dan Isabella I, ia dipaksa untuk buka mulut atas penemuannya kepada John II, Raja Portugal.
Yakin bahwa pulau baru ini termasuk dalam Perjanjian Alcáçovas-Toledo yang ditandatangani pada 1878, yang membagi daerah di selatan Canary Islands kepada Portugal, John II mendeklarasikan kepemilikannya.
Sementara itu, Martin Alonso Pinzón, navigator asal Spanyol yang menemani Colón berhasil membawa kapalnya, Pinta, ke tepi pantai Spanyol dan langsung mengabarkan tentang tanah temuan baru ini ke Barcelona dimana monarki Katolik berada pada saat itu. Tempat dimana Ferdinand memulihkan dirinya.
Merespon kabar tersebut, monarki mengirim utusan ke Paus Alexander VI dengan klaim atas penemuan Colón. Berasal dari Valencia (yang menjadi bagian dari Kerajaan Aragon) dan menjadi bagian dari Monarki Katolik, Paus Alexander VI mengeluarkan tiga surat putusan kepausan.
Salah satunya adalah Inter Caetera yang dikeluarkan pada 4 Mei 1493 - dan secara efektif membatalkan Perjanjian Alcáçovas-Toledo. Alih-alih secara paralel, perjanjian ini justru membagi Atlantik untuk Portugal dan Spanyol melalui garis horizontal, sebuah perbatasan demarkasi vertikal yang membagi dunia dari kutub ke kutub melewati Samudra Atlantik.