MENGAJARKAN anak empati tidak bisa hanya lewat ucapan. Tetapi juga butuh praktik. Biasanya sekolah tak begitu memerhatikan soal ini.
Ada sekolah di Denmark yang memiliki kurikulum belajar berempati. Memang, ada banyak aspek indah dari budaya Denmark, seperti Hygge, desain minimalis, perkawinan yang kuat, dan kota yang penuh warna. Jadi, tidak terkejut saat diperkenalkan tradisi sekolah di Denmark.
Sherly Sandberg menulis tentang Klassens Time, bagian dari kurikulum Denmark yang berfokus pada membangun literasi emosional di antara teman sekelas. Setiap minggu seluruh kelas duduk bersama dan membahas masalah mereka, sementara teman-teman mereka mencoba memberikan bimbingan.
Tapi jika ini tidak cukup baik, tradisi itu hadir dengan suguhan manis, anak yang berbeda membawa kue untuk dibagikan setiap minggunya. Waktu Klassens berlangsung dari taman kanak-kanak (apa yang mereka sebut kelas nol) sampai awal sekolah menengah. Manfaat dari program mingguan ini adalah rasa empati yang diperkuat dan mengetahui bagaimana perilaku mempengaruhi orang lain.
"Dengan demikian, Klassens Time tidak hanya menumbuhkan rasa empati di antara teman sekelas, tapi juga rasa komunitas yang lebih besar. Ada segregasi yang, karena hanya ada sedikit jalan untuk berhubungan dengan siswa di kelas lain," tulis Liz Steelman dilansir dari Realsimple, Jumat (14/7/2017).
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.