Konflikpun meletup antara keluarga kerajaan dan sepasang naga karena merebutkan sang bayi perempuan yang sudah beranjak dewasa. Raja meminta kembali bayi perempuannya yang sudah jadi seorang putri itu, namun kedua naga tidak menerima keputusan sang raja, hingga perkelahian pun tidak dapat dihindari.
Tuan Tapa yang sedang bermeditasi akhirnya merasa terusik dengan pertengkaran pun ikut campur melerai mereka semua dan meminta naga untuk memberikan sang putri pada keluarganya. Naga menolak, lalu menantang Tuan Tapa untuk bertarung, sayangnya sang naga tidak beruntung hingga harus mengembalikan sang putri ke keluarganya.
Putri pun kembali ke keluarganya dengan julukan putri naga. Singkat cerita naga jantan mati terbunuh dan tubuhnya hancur. Sisa tubuh naga itu menghitam, kini dikenal dengan batu hitam. Sementara darah naga yang merah berubah jadi batu merah. Sedangkan, Tuan Tapa meninggalkan jejak kakinya yang masih ada sampai sekarang.
Melihat kematian sang naga jantan, naga betina tidak bisa terima. Ia mengamuk hingga membelah pulau jadi dua yang sekarang jadi Pulau Dua. Pulau terbesar masih jadi sasaran amuk naga hingga pulau terporak-porandakan jadi 99 buah pulau kecil, yang juga dikenal dengan Pulau Banyak sekarang.
Tuan Tapa pun akhirnya meninggal tidak lama setelah kejadian itu. Ia dimakamkan dekat Gunung Lampu depan Masjid Tuo, Gampong Padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan.
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.