Batu Macan, Lahat (foto: Instagram/@shyntaps)
KABUPATEN Lahat, dikenal memiliki ribuan batu megalit peninggalan sejarah. Namun, salah satu yang paling terkenal adalah Batu Macan. Penasaran seperi apa bentuknya? Yuk lihat lebih dekat.
Daerah yang dipimpin Aswari Rivai memiliki megalit Batu Macan di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Pagar Alam Pagun. Batu tersebut sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad ke-14. Batu tersebut ternyata memiliki cerita yang panjang lho.
Batu Macan ini disebut sebagai simbol penjaga terhadap perzinahan dan pertumpahan darah. Empat daerah yang dijaga yakni Pagar Gunung, Gumai Ulu, Gumai Lembah, dan Gumai Talang. Pak Idrus sang penjaga situs mengatakan, kisah adanya batu macan terkait dengan legenda si pahit lidah yang beredar di masyarakat.
SIMBOL LARANGAN PERZINAAN . Serunting, itu nama aslinya, cerita foklor yg beredar dikalangan masyarakat adlh tentang kesaktiannya. . Foklor tentang kisah pendekar yg baik hati dan bijaksana ini beredar hingga daerah sumatera bagian selatan, tak hanya provinsi Sumsel, namun sampai Jambi, Bengkulu dan Lampung . Legenda asal-usul Serunting Sakti sendiri masih gelap, sebagian orang mengatakan bahwa Serunting Sakti berasal dari suatu daerah di Jazirah Arab, yang datang ke Bengkulu melalui kerajaan Majapahit . Di Majapahit, Serunting Sakti meminta sebuah tanah perdikan (daerah) untuk didiaminya, dan oleh Raja Majapahit dia diperintahkan untuk memimpin di daerah Bengkulu Selatan . Salah satu kesaktiannya adalah "Sabdo Pandhita Ratu" apapun yg di ucapkan akan menjadi kenyataan. . Di Lahat, bnyk ditemukan peninggalan megalithikum yg berbentuk patung, konon untuk patung yg berubah manusia / hewan adalah hasil dari sabda serunting yg kerap disebut Si Pahit Lidah. . Alkisah, ketika Si Pahit Lidah sedang bersantai dan berjemur di batu penarakan sumur tinggi, dari jauh dilihatnya seorang wanita sedang menjemur padi sambil menggendong anaknya, dan pada saat yang sama datang seekor macan dari arah belakang wanita secara mengendap-endap untuk menerkam wanita bersama anak yang ada di gendongannya . Melihat itu, kembali Si Pahit Lidah memperingati macan, namun sayangnya teguran itu tidak juga membatalkan niatnya untuk menerkam wanita tersebut, sampai akhirnya Si Pahit Lidah berucap “Aii, dasar batu kau nii!” dan tiba-tiba macan tersebut berubah menjadi batu . Kisah lain menyebutkan, Batu Macan diatas adalah simbol yang diyakini masyarakat sebagai wujud nyata paraturan adat (perdat) yang harus dipatuhi . Diperkirakan, Batu Macan yang terdapat di Desa Pagar Alam Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat ini, sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad 14 lalu . Sebagai simbol, Batu Macan ini merupakan bentuk penjagaan atau pagar terhadap perzinaan dan pertumpahan darah dari empat daerah, yakni Pagar Gunung, Gumay Ulu, Gumay Lembah, dan daerah Gumay Talang . #BatuMacan #Lahat #PagarBatu
Sebuah kiriman dibagikan oleh tofan ardi (@tofan_ardi) pada Mar 5, 2017 pada 9:27 PST
Pada waktu itu, si pahit lidah sedang berjemur di batu penarakan sumur tinggi. Pada saat sedang berjemur, si pahit lidah melihat seekor macan betina yang sering menggangu masyarakat desa. Pahit lidah mengingatkan agar macan tersebut tidak mengganggu masyarakat desa.
Namun, macan tersebut tidak menuruti apa yang disampaikan oleh si pahit lidah. Padahal si pahit lidah sudah menasehati macan tersebut sampai tiga kali, sampai akhirnya si pahit lidah berucap “ai, dasar batu kau ni”.