Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menikmati Lezatnya Ie Bu Peudah, Menu Tradisional Warga Aceh saat Ramadhan

Rayful Mudassir , Jurnalis-Rabu, 07 Juni 2017 |15:05 WIB
Menikmati Lezatnya <i>Ie Bu Peudah</i>, Menu Tradisional Warga Aceh saat Ramadhan
Ie bu peudah makanan ramadan khas Aceh (Foto:Rayfull/Okezone)
A
A
A

SEBAGAI daerah subur, Aceh terkenal dengan kekayaan alam dan rempahnya. Tak jarang kuliner khas Serambi Mekkah kaya akan bumbu-bumbu pilihan termasuk untuk menu berbuka puasa, salah satu Ie Bu Peudah.

Ie Bu Peudah merupakan bubur atau minuman tradisional yang ada Aceh. Uniknya pembuatan kuliner satu ini memanfaatkan setidaknya 44 rempah-rempah yang ada di Tanah Rencong.

Biasanya makanan tradisional ini dimasak saat memasuki bulan puasa. Warga di perkampungan saban Ramadhan tiba, selalu meracik Ie Bu Peudah. Bubur ini dimasak untuk kemudian dikonsumsi saat waktu berbuka bersama keluarga.

Salah satu desa yang masih membuat Ie Bu Peudah seperti di Gampong (Desa) Lam Alue Rayeuk, Kecamatan Siem Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar. Masyarakat sekitar cukup menggemari masakan ini. Pembuatan kuliner tradisional masih dilangsungkan sampai sekarang.

“Tiap Ramadhan selalu masak Ie Bu Peudah di Meunasah (Mushalla). Paling tidak bisa membantu warga yang sedang tidak ada makanan berbuka di rumah, bisa dibantu dengan ini,” kata Iskandar (28), salah satu koki Ie Bu Peudah di Gampong Lam Alue Rayeuk saat dijumpai Okezone.

44 jenis rempah sebagai bahan baku Ie Bu Peudah dikumpulkan sekitar sebulan menjalang bulan puasa. Dalam rapat gampong ditetapkan pada hari yang telah disepakati, seluruh warga laki-laki baik muda hingga tua harus ke kebun untuk mengambil bumbu yang dibutuhkan.

“Hari itu tidak boleh ada yang kerja, semua harus ke kebun bersama-sama untuk mengumpulkan rempah-rempah sebagai bumbu masakan Ie Bu Peudah,” sebut peracik Ie Bu Peudah lainnya, Ismail (50).

Sementara kaum ibu menunggu dirumah. Setelah rempah tiba di gampong, giliran para wanita gampong mengolahnya dari menjemur hingga menumbuk halus rempah tersebut. Proses penjemuran dilakukan tiga hingga empat hari. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama.

Pembuatan Ie Bu Peudah dilakukan tidak sendiri. Tahun ini Iskandar dan Ismail bertugas menjadi peracik Ie Bu Peudah bagi warga gampong. Sebelum bulan Ramadhan kedua pria tersebut telah ditetapkan sebagai peracik kuliner tradisional itu dan diberi upah oleh pihak gampong.

Ie Bu Peudah mulai dimasak usai shalat dhuhur atau menjelang ashar di belakang Meunasah. Sebelum air dimasak dalam dua belanga besar, terlebih dulu belasan hingga puluhan kepala dikukur. Kelapa tidak diperas, namun langsung disatukan dengan bumbu lainnya dalam belanga.

Ketika air hampir mendidih, barulah 44 jenis rempah kering dan telah halus, dimasukkan dalam belanga besar. Tidak lupa pula garam ikut dibubuhkan dalam wadah bersama daging kelapa usai dikukur.

Kemudian, buah Ketela dimasukkan belakangan saat air dalam wadah bersama rempah lainnya mulai mendidih. Saat proses itu, masakan Ie Bu Peudah mengeluarkan aroma seperti minuman teh. Warna bubur tersebut juga menjadi lebih hijau kecoklatan.

Proses pembuatan Ie Bu Peudah memakan waktu sekitar satu hingga dua jam. Menu berbuka warga ini sudah dinilai matang ketika telah mengeluarkan aroma khas hingga mendidih. Tahun ini, Iskandar dan Ismail membuat masakan tersebut dengan satu belanga besar dan kecil setiap hari selama Ramadhan.

Setelah matang menjelang ashar, sejumlah warga gampong mulai berdatangan dengan menenteng teko hingga baskom kecil. Warga saban sore mengambil Ie Bu Peudah untuk disantap saat berbuka. Tidak hanya warga sekitar, warga gampong tetangga juga diberikan Ie Bu Peudah bila memintanya.

“Rasanya enak, kami sekeluarga suka. Di rumah suka minum Ie Bu Peudah saat buka puasa,” kata Putri warga gampong setempat.

Selain sebagai menu berbuka puasa, Ie Bu Peudah ja dipercaya sebagai salah satu kuliner yang memiliki banyak khasiat. Seperti memperlancar pencernaan hingga dapat menambah stamina saat dikonsumsi.

Hingga kini tidak banyak lagi ditemukan gampong yang masih membuat masakan tersebut. Meski begitu di pedalaman Aceh Besar, sebagian gampong masih mempertahankan warisan leluhur ini saat memasuki bulan Ramadhan.

(Santi Andriani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement