Advertisement
Advertisement

Menelusuri Sejarah "The Lost World Castle" di Lereng Merapi

Prabowo , Jurnalis-Minggu, 12 Maret 2017 |09:00 WIB
Menelusuri Sejarah
The Lost World Castle, Yogyakarta (foto: Prabowo/Okezone)
A
A
A

Kemudian di tahun 2013, pembangunan fisik bangunan mirip benteng Takhesi maupun tembok Cina di lereng Merapi ini dikerjakan secara bersama. Ditengah pembangunan, dana investasi sudah habis terpakai. Namun, fisik bangunan masih jauh dari harapan.

"Kita buka lagi cermin kedua bagi warga yang ingin investasi. Kemudian, terkumpul dana Rp 200 juta. Dari 125 Kepala Keluarga di Petung, ada sekitar 85 persen menanamkan investasi dalam paguyuban ini," jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, pembangunan fisik untuk Castle sudah hampir selesai. Saat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Meski belum resmi dibuka, tapi awal tahun 2017 lalu, tempat wisata baru ini bisa dikunjungi wisatawan.

Dia mengaku kunjungan wisata relatif lebih banyak saat hari libur. Pengunjung hanya cukup merogoh uang Rp 15 ribu untuk satu orang. Keunggulan yang ditawarkan dari keindahan alam, tempat, hingga udara yang sejuk karena di lereng Gunung Merapi.

Sayangnya, upaya menjadikan kawasan itu sebagai desa wisata belum mendapat restu dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Sebab, kawasan itu merupakan zona merah yang tidak diperbolehkan untuk didirikan bangunan.

"Kita baru jalan tiga minggu, sudah hujan surat dari Pemkab," katanya diamini sesepoh warga, investor yang juga warga setempat, dan beberapa anggota paguyuban pengelola 'The Lost World Castle'.

Mereka tak ingin berpolemik dengan Pemkab Sleman terkait status maupun kepemilikan 'The lost world castel' ini. Anggota paguyuban, Erwan Wiharjo menyampaikan, bangunan benteng Castle itu hanya satu dari sekian rencana pengembangan wisata yang digagas warga.

Luas bangunan castle 1,3 hektare dan stonehange sekitar 800 meter persegi. Warga juga masih menyediakan tempat sekitar empat hektare untuk pengembangan. Lokasinya merupakan satu kesatuan dari The Lost World Castle karena berada disekitar kawasan tersebut.

"Kita juga ingin membuat taman bunga, juga kandang sapi, dan panggung hiburan. Pengembangan wisata ini seminimal mungkin tidak merusak alam," tandasnya.

Erwan bersama warga lainnya berharap pengembang objek pembangunan fisik itu bisa terealisir hingga akhir tahun ini. Kemudian, di tahun 2018 nanti sudah bisa untuk dikunjungi wisatawan. "Kita inginkan wisatawan kalau ke sini waktunya satu hari. Mulai dari castel, kemudian menuju taman bunga, setelah itu ke peternakan sapi, dan melihat hiburan di panggung. Itu impian kita sebagai pengelola wisata," pungkasnya.

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement