WISATA Danau Toba, Sumatera Utara sudah banyak dikenal oleh dunia karena pesona alam yang diciptakan secara natural dari hasil erupsi Gunung Samosir. Di sana juga menjadi tempat yang tepat untuk belajar budaya Batak.
Sebab, sepanjang pesisir Danau Toba terdapat desa adat yang masih mempertahankan kearifan lokal mereka. Ini bisa dilihat dari struktur bangunan rumah yang terdiri dari panggung dengan tiang pancang yang kokoh selama ini menjadi salah satu lokasi wisata yang sering dikunjungi wisatawan.
Desain ukiran dan ornamen khas warna merah, hitam, dan putih yang menampilkan pandangan kosmologis dan filosofis budaya Batak, juga banyak dikagumi wisatawan.
(foto: Kemenpar)
Melihat potensi wisata ini, Kementrian Pendidikan dan Budaya bekerja sama dengan Kementrian Pariwisata Indonesia untuk menyatukan ketiga desa adat ini. Sehingga nantinya, desa di Danau Toba bisa menjadi wisata desa di Indonesia.
“Ada tiga desa adat yang mulai direvitalisasi akhir pekan lalu. Pertama Desa Adat Ragi Hotang di Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Tobasa. Berikutnya Desa Adat Hutagaol Sihujur di Kecamatan Silaen, Kabupaten Tobasa setelah itu Desa Adat Rumah Bolon Gunung Malela di Kabupaten Simalungun,” terang Ketua Pokja Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar, Hiramsyah S Thaib, yang didampingi Utama Badan Otorita Danau Toba, Ari Prasetyo.
Sebanyak empat ribu rumah akan disatukan dan juga ditata. Selain itu, pemerintah juga mengupayakan untuk menjadikan desa tersebut sebagai tempat menginap wisatawan yang ingin belajar budaya lebih dekat dengan lokal. Kehadiran desa tersebut bisa membuat Indonesia semakin dilirik oleh dunia terutama soal budaya.