Namun, tradisi ini juga sering diselenggarakan pada saat-saat tertentu, khususnya dalam festival-festival di seluruh penjuru Jepang. Pasalnya, keunikan prosesi mochitsuki, seringkali menarik perhatian para wisatawan.
Sehari sebelum prosesi berlangsung, penduduk asli Jepang akan merendam dan mengukus nasi selama satu malam penuh. Setelah itu, adonan akan diletakkan pada sebuah wadah tradisional yang terbuat dari kayu atau batu (usu) berdiameter 30 cm, lalu ditumbuk dengan palu kayu (kine) secara bersama-sama.
Proses inilah yang selalu menarik perhatian wisatawan, karena ada nyanyian-nyanyian khusus yang dilantunkan para pembuat mochi ketika proses penumbukan berlangsung.
Teknik pengolahan mochi
Secara spesifik, masyarakat Jepang biasanya menggunakan berbagai jenis beras untuk mengolah kue bertekstur kenyal ini. Mulai dari beras ketan, sweet rice, waxy rice, botan rice, dan masih banyak lagi.
Setelah itu, beras akan dimasak, lalu diletakkan pada sebuah permukaan batu yang dikenal dengan sebutan 'usu', untuk kemudian ditumbuk hingga menghasilkan tekstur yang halus dan juga lengket. Meski kini sudah ada mesin pembuat mochi, teknik tradisional tersebut masih sering digunakan oleh sejumlah restoran ternama di Jepang.
Untuk penyajiannya, mochi kerap disajikan dengan soy sauce, gula, atau ditaburi bubuk kacang kedelai (kinako). Namun, seiring perkembangan zaman, mochi sering diolah menjadi berbagai hidangan lezat lainnya seperti, bahan campuran sup, permen, atau hanya sekadar dipanggang seperti sedang mengolah marshmallow.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.