Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Sukses Daniel Mananta Usung Patriotisme Modern hingga Mancanegara

Vessy Frizona , Jurnalis-Senin, 15 Agustus 2016 |11:34 WIB
Kisah Sukses Daniel Mananta Usung Patriotisme Modern hingga Mancanegara
Daniel Mananta (Foto: Afiza/Okezone)
A
A
A

SEKIRA 71 tahun lalu pahlawan revolusi berjuang, berdarah-darah hingga mati-matian demi kemerdekaan Republik Indonesia. Andai ada mesin waktu dan mereka melihat Tanah Air saat ini, apa yang akan mereka katakan?

Apakah mereka bangga melihat negeri ini yang sudah merdeka dan para pemuda bisa menikmati hasil serta bersaing dengan negara-negara tetangga? Atau kecewa karena perjuangan hingga mati hanya untuk hal sepele melihat kondisi negara saat ini?

Demikian ungkapan Daniel Mananta mengibaratkan perjuangan pemuda Indonesia tempo dulu dengan anak muda sekarang dalam memberi kontribusi untuk bangsa ini. Di mana perjuangan pemuda saat negara sudah merdeka, tidak ada apa-apanya ketimbang pengorbanan pahlawan revolusi.

Dalam memperingati HUT RI ke-71, bangsa Indonesia diingatkan kembali tentang sejarah bagaimana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri dan bebas dari belenggu penjajahan. Sebagai anak muda, Daniel terbilang peka melihat peran dirinya, bagaimana agar bisa memberi kontribusi bagi bangsa ini.

Mengawali karier sebagai VJ acara musik kelas dunia untuk Indonesia, pria berwajah oriental ini sadar bahwa nasib bangsa ada di tangan anak muda. Oleh sebab itu, ide brilian-nya pun mucul untuk mengenalkan budaya lokal ke mancanegara lewat cara sederhana. Sebuah brand clothing line, ''Damn! I Love Indonesia'', Daniel proklamirkan budaya lokal lewat pakaian.

Dalam wawancara bersama Okezone, beberapa waktu lalu, Daniel menceritakan perjalan sukses clothing line miliknya yang berawal dari kecintaan terhadap negeri sendiri hingga menjadi suatu gerakan proklamasi moderen.

Darimana datangnya ide membuat bisnis fesyen dengan brand, ''Damn! I Love Indonesia''?

"Pada 28 Oktober 2008 saya mendadak dapat pencerahan dari Tuhan pas lagi jalan di salah satu mal di pusat ibu kota. Saya ingin melahirkan sebuah brand bertitel DAMN (Daniel Mananta). Tapi kalau hanya itu terlalu generik. Karena kecintaan terhadap Indonesia, maka jadilah kaos bertuliskan ''Damn! I Love Indonesia'' dengan desain pertama batik. Saat peluncuran, kami mengundang media. Tidak hanya ditanggapi positif, tetapi juga mendapat dukungan. Menurut mereka aksi semacam ini seharusnya dicontoh anak muda lainnya. Cinta produk lokal, bangga, sekaligus mempromosikan budaya sendiri.

Hal yang paling penting dari bisnis ini adalah saya enggak mengejar untung berupa uang. Bisnis ini adalah misi dari passion saya terhadap Indonesia. Laku atau tak laku ''Damn! I Love Indonesia'' di pasaran, saya tak terlalu peduli. Karena modal bisnis ini hanya dari 3-4 kali nge-MC. Jadi kalau rugi saya tinggal kerja lagi tiga sampai empat kali, kemudian balik modal. Nah, anggapan orang tentang Daniel gagal tinggal saya lupakan. Karena misi awal yaitu promosi patriotisme modern."

Hambatan atau tantangan memasarkan ''Damn! I Love Indonesia''?

"Pertama kali memulai, saya enggak sewa toko. Tapi sewa tembok yang ada di sudut jajaran toko salah satu mal di Jakarta. Produk-produk kami dipajang di tembok. Tak disangka, ternyata animo masyarakat, khususnya anak muda besar sekali. Tidak sampai dua bulan barang habis. Kami belum memproduksi lagi. Sejak itu saya mulai merapikan konsep dan produksi. Mempersiapkan gudang dan pekerja. Sampai empat tahun berjalan, uangnya enggak pernah saya ambil. Tapi 'disuntik-in' balik untuk membuka cabang baru. Yang hingga saat ini sudah ada 8 di kota besar di Indonesia.

Sementara itu, saat ''Damn! I Love Indonesia'' menjadi trend yang sangat diganderungi anak muda, munculah produk-produk tiruan. Itu menjadi masalah tersendiri bagi saya. Kalau banyak orang bilang seharusnya bangga barangnya dibajak, saya yakin orang yang ngomong seperti itu belum pernah merasakan rasanya produk dikopi. Barang bajakan menjual Rp100 ribu sebanyak tiga buah, sedangkan produknya per-itemnya lebih dari harga segitu. Untuk menghadapinya saya percaya diri saja, bahwa konsumen saya orang cerdas. Mereka tahu kualitas dan hanya ingin beli barang yang orisinil. Saya merasa dirugikan justru ketika produk bajakan dipakai oleh orang-orang kelas C/D yang tidak punya etika. Memakai kaos ''Damn! I Love Indonesia'' (bajakan) tapi sambil mabuk atau nongkrong enggak jelas. Imbasnya tentu ke brand asli kami.

Usaha saya ini engga selalu mulus. Ada saja persoalan seperti berantem sama partner, itu menjadi masalah sehari-hari. Engga ada orang yang mau berantem sampe enggak bisa tidur soal bisnis, tapi ini terjadi. Misalnya, partner saya ngomong, harga harus naik karena inflasi naik. Namun saya enggak mau. Saya ingin solusinya adalah investasi di branding sehingga orang banyak beli baju maka kita bisa produksi lebih banyak. Jadi bisa nurunin biaya produksi. Karena konsumen sudah yang paling benar jadi jangan sampai merusak kepercayaan costumer. Dalam situasi seperti itu kami harus bisa menahan ego dan diskusi bersama. Melihat apa yang terbaik yang diinginkan konsumen, bukan yang paling baik untuk brand ini."

Dengan mengusung misi patriotisme modern, kontribusi apa saja yang sudah diberikan untuk Indonesia?

"Saya bersyukur sekali patriotisme menjadi keyword anak muda yang mencintai produk ini. Mereka itu kekuatan kami, think global act local. Memakai barang kami kemudian pergi ke luar negeri terus foto, di upload di media sosial. Dari sebuah brand menjadi gerakan mencintai Indonesia. Mereka juga keliling daerah wisata Indonesia dengan bangga memakainya karena yang lain terlalu mainstream, mereka bilang 'gue cinta Indonesia'.

Ada juga penyanyi luar pake baju ini, rasanya mau nangis. Ketika Adam Lavign pakai ''Damn! I Love Indonesia'' saat konser Maroon 5, saya sampai berbusa-busa, enggak mengira sampe sedasyat itu. Selain itu, bintang Korea yang pakai bajunya di Korea. Jujur enggak pernah sampai berekspektasi sejauh itu. Saya bersyukur. Satu pelajaran berharga saya petik dari bisnis adalah jangan mengejar bisnisnya, tapi miliki misi lain yang mulia di balik itu. Kejar misi bukan duit."

Terakhir, apa target ''Damn! I Love Indonesia'' ke depannya? Baik dari segi bisnis dan Indonesia?

"Terpenting harus terus menjadi trend. Target market kami sudah jauh di atas yang ingin dicapai. Sekmen market kami anak muda usia 17-25 tahun, usia saya sudah jauh di atas itu. Saya sekarang ingin memudakan lagi tim, baik desain marketing, dan semua lini yang ada. Karena kami butuh ide-ide mereka. Pekerja tua akan menjadi leader, yang muda mencari ide segar.

Sebagai leader sekaligus owner saya ingin menanamkan misi dan menyamakan suara bahwa kalau ''Damn! I Love Indonesia'' bertujuan mempromosikan budaya dan pratriotisme modern sehingga ada satu benang merah. Seluruh jajaran dari office boy, pergudangan, staf, dan sub leader di semu divisi memiliki satu visi-misi. Membuat sistem kultur leader to creat leader. Bless to became blessing.

Kalau dari segi brand, saya ingin pandangan daya beli masyarakat tidak lagi melabeli produk Indonesia murah dan murahan. Walau tak semahal brand luar, tapi engga murah sampai Rp100 ribu dapat tiga. Banyak yang bertanya, kenapa ''Damn! I Love Indonesia'' cuma ada di mal kelas A? Kapan buka di ITC/Tanah Abang? Sejujurnya, sudah banyak yang menawarkan untuk membuat secound line buat sasaran market kelas C/D, pastinya untung akan lebih besar. Tapi, saya engga mau karena targetnya bukan duit. Cinta indonesia bukan berarti harus murahan terus. Apabila mereka belinya mahal, barangnya pasti dirawat. Sedangkan yang Rp100 ribu dapat 3, ujung-ujungnya jadi kain pel.

Lifestyle berubah terus. Kebiasaan konsumen juga berubah. Jangan sampai kita jadi sebuah brand yang dulu pernah keren. Kita akan buat keren terus. Keep up with time, top of mind, dan menjadi produk indonesia yang paling mewakili di dunia di mancanegara. Semoga lebih banyak lagi anak muda yang jalan-jalan ke luar negeri, dan di luar negeri pakai baju ''Damn! I Love Indonesia''.

Pada akhir sesi wawancara, Daniel mengajak anak muda untuk mengoreksi diri. "Yuk, evaluasi diri kita. Apakah yang kita lakukan saat ini sudah worth it untuk membayar perjuangan pahlawan?"

(Vien Dimyati)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement