TIDAK banyak warga Palembang menghabiskan sore hari dengan melihat Sungai Musi dari atas Jembatan Ampera.
Tapi bagi yang baru pertama kali ke Kota Pempek ini, kurang afdol rasanya Okezone tidak menampakkan kakinya di bangunan ikonik Provinsi Sumatera Selatan ini.
Layaknya kota-kota besar lainnya di Indonesia, suasana lalu lintas di kawasan Ampera sore tadi padat dan macet. Karena bersamaan dengan aktivitas pegawai pulang bekerja.
Untuk sampai di Jembatan Ampera, berbagai moda transportasi umum bisa digunakan. Dari Jalan Veteran, ada angkutan umum berupa bis kota warna merah yang siap mengantar ke tujuan. Biayanya, Rp4 ribu.
Bis kota terakhir operasional pada pukul 19.00 WIB. Transportasi umum lainnya yang bisa ditumpangi adalah becak motor, besaran harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Jika ingin lebih nyaman lagi yaitu taksi, tapi ingat jalanan pada sore hari bahkan hingga malam beberapa titik mengalami kemacetan. Selain karena jam pulang kantor, juga karena ada pembangunan LRT, semacam MRT di Jakarta.
Sampai di tujuan Okezone mulai melakukan perjalanan. Tidak lupa kamera siap di tangan demi mengabadikan momen pertama kali itu.
Melihat kemegahan bangunan jembatan yang berwarna merah, seketika rasa kesal karena asap yang menyemprot dari knalpot kendaraan terobati.
Rasa penasaran akan jembatan yang banyak diperbincangkan pelancong di dunia maya harus dibuktikan dengan mata kepala sendiri.
Nama AMPERA dengan huruf kapital di tengah jembatan seolah membius untuk berjalan semakin mendekat, ke tengah jembatan sepanjang 1.117 meter tersebut.
Namun ternyata bukan perkara mudah untuk mendekati bagian tengah jembatan. Meski disediakan pedestrian atau jalur pejalan kaki yang sangat lebar, ternyata harus dipaksa berbagi dengan pengguna sepeda motor yang tidak bertanggungjawab.
Karena empat jalur yang macet, para pengguna motor seenaknya naik ke pedestrian, begitu pun tukang becak motor. Persis seperti pemandangan yang Okezone lihat di Jakarta.
Mencapai bagian tengah jembatan ada bagian pedestrian yang lebih luas. Di sini Okezone memilih menyudahi perjalanan dan giliran menikmati pemandangan sungai Musi dari atas Jembatan Ampera.
Debet air saat itu sedang tinggi dengan arus yang deras. Ada kengerian menyeruak jika melihat ke bawah, apalagi pagar besi jembatan yang tidak terlalu tinggi.
Dari atas Jembatan Ampera giliran aktivitas transportasi sungai jelas terlihat. Beberapa kapal motor, ketek atau perahu tradisional, hingga kapal besar hilir mudik membawa penumpang.
Sebelum ke bagian tengah jembatan, pemandangan lainnya adalah aktivitas pasar tradisional Pasar Ilir 16 yang sore itu juga ramai. Tidak kalah ramai adalah Pasar Beji yang berada tepat di kolong jembatan. Pasar ini layaknya Pasar Senen di Jakarta yang menjual baju-baju bekas.
Memanfaatkan ketenaran Jembatan Ampera, sejumlah tempat makan modern berdiri. Seperti gerai J.Co, restoran Riverside dengan perahu mengapung, restoran Kapitan.
Puas memandang kesibukan Sungai Musi, Okezone memilih turun ke Pasar Beji sebelum akhirnya kembali ke hotel dengan menumpang becak motor yang dibayar Rp25 ribu.
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.