Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nyeruput Dawet Prambanan 'Ngudi Roso' yang Melegenda

Agregasi Kedaulatan Rakyat , Jurnalis-Sabtu, 30 April 2016 |09:31 WIB
<i>Nyeruput</i> Dawet Prambanan 'Ngudi Roso' yang Melegenda
Dawet ayu ngudi roso di Prambanan (foto: KRjogja)
A
A
A

YOGYA – Keberadaan para penjual es dawet di sepanjang kawasan Prambanan tepatnya di wilayah Bogem mungkin bukan hal yang baru. Namun, sudah pernahkah menikmati es dawet di tengah terik matahari seperti yang terjadi saat ini?

KRjogja.com, Rabu lalu menjajal kenikmatan es dawet Prambanan ini. Dari sekian banyak, kami memilih Dawet Ngudi Roso yang letaknya tepat berseberangan dengan juru supit Bogem. Kios dawet yang dimiliki oleh Karno Cipto (52) tersebut sudah lama ada sejak tahun 1990 dan awalnya berada di depan kantor Balai Purbakala yang tak jauh dari lokasi.

Dawet buatan Cipto yang resepnya telah dibuat lebih dari 25 tahun ini memiliki citarasa tersendiri. Dawetnya terbuat dari sagu pohon aren dipadukan dengan juruh dari gula jawa asli.

"Santannya juga tidak boleh pelit, kalau takarannya seharusnya 10 kelapa, ya tidak boleh kurang. Bagaimanapun rasa yang paling utama," ungkap bapak tiga anak yang masih meracik sendiri dawetnya hingga kini.

Es dawet Ngudi Roso ini juga memiliki ciri tersendiri yakni dicampur tape ketan yang tentu saja membuat rasanya semakin menarik. "Mungkin ini ciri khas yang lain dan membuat orang selalu mampir," imbuhnya tersenyum.

Untuk masalah harga, jangan khawatir. Segelas es dawet dengan tape ketan dihargai cukup murah yakni Rp 3 ribu. "Untuk yang tidak pakai tape hanya Rp 2.500 saja, itu saya sudah untung kok," ungkap pria asli Bayat Klaten ini.

Ada cerita tersendiri mengapa Cipto tetap mempertahankan harga murah untuk es dawet buatannya. Menurut dia, es dawet merupakan minuman rakyat dan harus bisa dijangkau semua kalangan.

"Tidak mau dibuat mahal, bagaimanapun dawet minuman rakyat. Sudah sejak jaman Majapahit ada dan akan tetap seperti itu," ungkapnya lagi.

Dalam sehari dengan harga tersebut, Cipto bisa menjual habis 800-1500 porsi yang dibawanya dari rumah. "Pas akhir pekan pasti 1500 porsi habis, apalagi cuacanya panas seperti ini," lanjutnya lagi.

Setiap hari, kios dawet ini buka mulai pukul 09.00 hingga habis atau paling lama pukul 16.00 WIB. Tapi jangan sampai terlalu sore juga, karena saat cuaca terik biasanya dawet sudah terjual habis lebih cepat.

Kenikmatan dawet Ngudi Roso ini sepertinya memang tak bisa diragukan lagi. Para pejabat dan artis pun sering kali mampir untuk menjajal es dawet yang sebenarnya asli Klaten ini.

"Dulu, Anas Urbaningrum, lalu Butet Kartarajasa dan yang terakhir Sultan memesan dawet saya waktu ada acara di golf Cangkringan. Alhamdulillah, berarti banyak yang suka dengan dawet saya ini," ungkap Cipto lagi.

Wisatawan asing pun berulang kali menyempatkan mampir usai mengunjungi Candi Prambanan yang lokasinya memang tak jauh dari Bogem. "Dua tiga bus biasanya berhenti di sini, ya tidak tahu juga mungkin banyak yang penasaran," kelakarnya.

Penasaran dawet Prambanan ini? Coba saja mampir ke kawasan Bogem.

(Amril Amarullah (Okezone))

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement