Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kematian Mendadak Setelah Minum Kopi Ternyata Sering Terjadi

Erika Kurnia , Jurnalis-Sabtu, 09 Januari 2016 |13:15 WIB
Kematian Mendadak Setelah Minum Kopi Ternyata Sering Terjadi
Bahaya minum kopi (Foto: Huffingtonpost)
A
A
A

KEMATIAN mendadak tanpa alasan yang dapat dijelaskan terbilang banyak terjadi. Masalah jantung adalah penyebab yang paling signifikan, tapi tentu ada faktor lain yang menyertai. Di antara yang mungkin adalah kelelahan fisik dan konsumsi kafein berlebih.

Memang tidak dapat dipungkiri, kopi punya sejuta manfaat. Namun, konsultan kesehatan saluran cerna dan spesialis penyakit dalam dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, juga mengingatkan, konsumsi kopi atau minuman berkafein lainnya secara berlebihan dapat memicu efek samping membahayakan.

“Kita punya banyak pengalaman terkait kematian mendadak akibat konsumsi kafein. Seperti saat seusai pemilu, ada beberapa petugas KPPS meninggal karena mengalami serangan jantung. Setelah diselidiki, mereka habis kelelahan kerja memaksa untuk terus minum kafein, dari kopi dan minuman berenergi,” tuturnya, saat berbincang dengan Okezone, lewat sambungan telepon, baru-baru ini.

Oleh karena itu, dr Ari pun mengingatkan masyarakat agar lebih pintar dalam mengatur pola hidup, termasuk bijak mengonsumsi minuman berkafein. Hal ini untuk mencegah dampak kesehatan yang mungkin berakibat fatal bagi tubuh.

“Kurangnya istirahat, masalah kesehatan seperti hipertensi atau hipersensitif kafein bila tetap 'dihajar' dengan konsumsi kafein tak terkontrol bisa sangat berbahaya, bahkan sebabkan kematian. Untuk itu, masyarakat sebaiknya bijak dalam minum kopi,” tutupnya.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement