PERSATUAN Rumah Sakit Indonesia (PERSI) mengaku kewalahan menangani pasien di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini mengakibatkan banyak masalah, seperti halnya penolakan pasien yang disebabkan oleh tingginya jumlah kunjungan pula.
Perwakilan Pengurus PERSI Tonang Dwi Ardyanto mengatakan, selama era JKN, jumlah kunjungan pasien meningkat sekira 2,5 kali lipat dari dua tahun sebelumnya. Sementara, kapasitas rumah sakit dan tenaga medis tidak dapat menampung jumlah pasien sebanyak itu.
"Sebelum JKN, angka kunjungan rumah sakit hanya empat setiap 100 penduduk per bulan. Sekarang, mendekati 10 orang. Jadi, ada peningaktan jumlah pasien dan kapasitas rumah sakit tidak menampung," ujar Tonang saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakrat Selatan, belum lama ini.
Dia membeberkan, jumlah penyakit yang paling banyak ditangani contohnya gagal ginjal. Saat ini, banyak pasien berduyun-duyun ke rumah sakit untuk melakukan hemodialisa (cuci darah) setiap harinya.
Sementara, diakui Tonang, pihak rumah sakit selalu kewalahan karena keterbatasan tenaga medis dan alat pendukung hemodialisa itu. Akibatnya, tidak smeua pasien tertangani dan ujung-ujungnya kecewa.