Keadaan pun memanas, prosesi peminangan yang seharusnya membawa kebahagiaan pun berubah dipenuhi dengan sumpah serapah.
Sumpah serapah itu ditujukan kepada tujuh turunan, di mana orang-orang dari Bukit Senubing tak akan menyebut-nyebut Tanjung Datuk, begitu pula sebaliknya. Keadaan tersebut pun berakhir dengan pengusiran kepada pihak keluarga laki-laki.
Meski kedua keluarga berada dalam situasi yang memanas, namun si laki-laki dan perempuan masih saling mencintai. Tetapi takdir berkata lain, keduanya tidak pernah disatukan kembali. Kisah mereka pun dijadikan sebagai latar belakang hamparan Batu Sindu dan sebuah goa yang ada di areal tersebut.
Hingga kini, legenda itu masih tertanam kuat dalam kehidupan masyarakat. Mereka percaya jika ada yang melanggar sumpah tersebut, maka bencana akan terjadi.
Sementara untuk pasangan kekasih yang berasal dari kedua desa tersebut, diyakini hubungannya tidak akan bertahan lama atau putus di tengah jalan. Demikian dikutip dari Haluankepri.
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.