Advertisement
Advertisement

Dubes di AS Bantu Wujudkan Mimpi Arief Yahya

Renny Sundayani , Jurnalis-Senin, 09 November 2015 |03:42 WIB
Dubes di AS Bantu Wujudkan Mimpi Arief Yahya
Dubes di AS bantu wujudkan mimpi menpar (Foto: Okezone)
A
A
A

API optimisme baru menyala di tengah kunjungan kerja Menpar Arief Yahya ke New York, Amerika Serikat lalu. Bagaimana tidak? Sekarang punya “Kopassus” alias Pasukan Khusus para diplomat yang akan membantu mewujudkan mimpi Kemenpar menuju angka sakti 20 juta wisman di 2019, dengan turut mempromosikan Wonderful Indonesia di Negeri Paman Sam.

Suasana itu terkesan saat dialog dengan para duta besar dan konsulat di markas PTRI Perutusan Tetap Republik Indonesia pada Perserikatan Bangsa Bangsa, di 325 East 38th Street, New York.

“Sisihkan waktu dan perhatian untuk mempromosikan Wonderful Indonesia. Kasih space yang cukup untuk didedikasikan buat membesarkan pariwisata nasional menuju target double 20 juta wisman di 2019. Saatnya membangun negeri, menggenjot wisman, menciptakan ekosistem yang kondusif di luar negeri, ujungnya menaikkan income dan devisa dari sektor pariwisata,” pinta Menpar Arief Yahya.

Memang, tidak ada garis komando antara Menpar dengan para duta besar dan diplomat yang sedang bertugas di luar negeri. Seandainya pun dijawab: Tidak bisa, bukan tugas kami, itu juga tidak salah. Tetapi, demi Merah Putih, demi Bangsa Indonesia, jika itu dilakukan maka akan tercipta spirit Indonesia Incorporated. Ini yang oleh Presiden Jokowi acap disebut “revolusi mental” dengan mengesampingkan ego sektoral, mengedepankan semangat ke-Indonesiaan.

“Kami senang, ini semacam enlightenment, pencerahan bagi kami dan para diplomat-diplomat muda yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa. Kami membutuhkan up dating seperti ini, sebagai bahan referensi untuk berdiskusi ke banyak negara di dunia, yang memiliki perwakilan di PBB. Saat ini ada 193 negara di PBB,” aku Desra Percaya, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Didampingi pada diplomatnya, Muhamad Anshor, Dubes/Deputi Wakil Tetap RI untuk PBB, Brigjen Jamaludin, Penasehat Militer, bersama Kamapradipta Ismono, Masni Eriza dan Achsanul Habib.

“Setuju, objek wisata kita seperti Pulau Lombok, itu luar biasa! Lengkap dan bisa dikemas menjadi kelas dunia. Kami setuju juga dengan kerja bersama, karena sector pariwisata memang harus dikeroyok bareng-bareng, tidak mungkin berdiri sendiri. Infrastruktur, kebersihan dan kesehatan, keamanan, transportasi, fasilitas publik, dan promosi harus kompak bersama-sama,” jelas Anshor.

Menpar Arief Yahya pertama menggambarkan peta Indonesia di kawasan ASEAN, di bawah Malaysia 27 juta, Thailand 25 juta, bahkan dengan negeri yang amat kecil di tengah Selat Malaka, Singapore 15 juta tahun 2014 lalu. Bandingkan dengan Indonesia? Yang baru 9,4 juta wisman?

“Terlalu jauh dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Malu saya, dengan capaian itu. Harus diakui, kami belum berhasil, itulah yang memaksa kita harus melompat dengan target double,” ujar Menteri Arief Yahya melalui rilisnya kepada Okezone, Senin (9/11/2015)

Kalau dibedah lebih dalam lagi, Mantan Dirut PT Telkom dan Komisaris Utama PT Telkomsel itu semakin malu. Tapi, bagi dia, lebih baik kehilangan muka sekarang, di tengah para pejabat sendiri, daripada dipermalukan ketika performansi dan capaian targetnya semakin jauh dari proyeksi? Karena itulah, Menpar Arief Yahya buka-bukaan dengan data-data terkini.

“Malaysia punya apa? Berapa banyak destinasi? Seberapa cantik pantai dan lautnya? Bandingkan dengan punya kita? Jauh, bumi langit, kita lebih eksotis, lebih cantik, lebih nature, lebih ramah, lebih alami. Faktanya, kita masih kalah,” jelasnya

Menurutnya wisata di Thailand seperti Phuket, Pattaya, Bangkok dan Chiang-Mai masih kalah dengan Indonesia, meskipun Kota Bangkok sendiri, dalam setahun 16 juta wisman, masih diatas Bali yang baru 4 juta wisman.

"Potensinya bisa 10 juta, sampai 2016, dengan cara membuka destinasi terintegrasi di Bali Utara. Apalagi Singapore? Yang hampir 100 persen objek wisatanya hanya buatan orang. Mereka terbatas oleh lahan, tanah dan luasan space, tetapi mereka berhasil membangun pusat perbelanjaan, pusat kegiatan finansial, dan pusat parkirnya kapal-kapal yacht. Kita punya Batam Bintan, yang dekat secara jarak maupun kebudayaanya. Kita memancing di kolam yang banyak ikannya. Kita berpromosi di Singapore untuk Indonesia,” tutur dia.

Ia menambahkan, ketiga negara tetangga itu tidak pernah diam. Mereka super agresif berpromosi, baik on air, off air, on line maupun below the line, bahkan serangan darat, serangan udara, semua digencarkan.

“Saya bisa membayangkan, untuk mengalahkan Malaysia. Saya juga bisa berimaginasi dan mencari cara untuk mengejar Thailand yang sudah USD40M, atau sudah mengalahkan komoditas terbesar Indonesia, oil and gas. Itu artinya, dalam empat tahun ke depan, kami bisa juga bisa mengejar ketinggalan dari minyak dan gas bumi,” jelas pria lulusan ITB ini.

(Renny Sundayani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement