Lubang Jepang ini dibangun oleh penduduk di Bukittinggi dan sekitarnya yang datang dari Pulau Jawa dan Kalimantan. Mereka dipekerjakan secara paksa romusha oleh Jepang sekira tahun 1942.
Lebih lanjut, Romy menjelaskan bahwa terowongan ini memiliki panjang 1.470 meter persegi. Terowongan ini dibagi menjadi beberapa ruangan seperti penjara, ruang makan, ruang sidang dan ruang amunisi.
Saat memasuki area pintu depan Lubang Jepang, kesunyian segera menyergap. Pengunjung harus menuruni terowongan yang panjang dengan puluhan tangga cukup curam. Tangga ini diberi pembatas yang memisahkan jalur masuk dan keluar.
Sebagai salah satu tempat yang pernah digunakan untuk menyiksa pribumi, Lubang Jepang dikenal angker. Menurut Romy, ada banyak pengunjung yang melaporkan melihat penampakan, baik penampakan tentara Jepang maupun penampakan lainnya. Namun itu dulu, berbeda dengan sekarang yang suasananya sudah cukup nyaman.
“Memang ada, banyak pengunjung yang mengaku melihat penampakan. Tapi kalau sekarang enggak ada, karena sudah dibuat menjadi nyaman,” ujar Romy kepada Okezone di Bukittinggi, Sumatera Barat baru-baru ini.