DILINGKUPI oleh kemajemukan suku membuat Masjid Jami di Kota Muntok tak sekadar asal bisa menampung para jamaah. Menelusuri sejarahnya, Masjid Jami menyimpan berbagai keindahan tiga budaya sekaligus.
Masjid Jami disebut-sebut merupakan masjid tertua di Pulau Bangka yang dibangun pada masa pemerintahan H Abang Muhammad Ali pada 1883. Bergelar Tumenggung Karta Negara II, Abang Muhammad Ali membangun Masjid Jami dibantu oleh tokoh masyarakat Muntok pada saat itu, yaitu Haji Nuh dan Haji Yakub.
Pilar-pilar besar yang menopang bangunan di bagian teras jelas mendapat pengaruh dari budaya Eropa yaitu saat zaman kolonial Belanda. Model teras atau serambi kental dengan bentuk bangunan penduduk suku Melayu, di mana dulu Bangka masih dibawah Kesultanan Palembang. Begitu juga dengan bentuk jendelanya.
(Foto:Santi/Okezone)
"Hiasan seperti kepala naga pada empat sudut di puncak bangunan mesjid merupakan gambaran budaya Tionghoa, pembangunan masjid ini pun mendapat donasi dari masyarakat Tiongkok saat itu. Sementara puncak masjid mirip dengan puncak Masjid Demak di Jawa," beber Eka, pemandu wisata yang membawa rombongan peserta seminar Homestay & Old Town ASEAN 2015, di Muntok.
Warna bangunan masjid didominasi oleh warna hijau. Warna ini mengikuti warna aslinya meski sudah mengalami beberapa kali pengecatan. Aslinya, masjid hanya terdiri dari dua bangunan utama. Pertama adalah mesjid itu sendiri, kedua adalah bangunan di sebelah masjid yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal pengurus masjid. Sesuai kebutuhan, kemudian dibangun beberapa bangunan tambahan.
Selain memerhatikan bentuk keindahan, sesuai fungsinya, detail bangunan masjid yang berlokasi di Jalan Imam Bonjol nomor 1, Kampung Tanjung, Kota Muntok, ini pun memiliki makna yang berkaitan erat dengan pedoman menjalankan ajaran agama Islam.
Kepada rombongan Eka menuturkan, lima pintu yang dimiliki masjid merupakan simbol lima Rukun Islam. Begitu juga dengan jumlah jendela sebanyak 17 buah yang mengartikan jumlah 17 rakaat salat. Jumlah pada setiap sisi bangunan pun berbeda mengikuti waktu sholat. Seperti pada sisi bangunan dengan dua jendela melambangkan salat subuh, tiga jendela melambangkan salat magrib dan empat jendela melambangkan salat zohor, azhar dan isya.
Selain jumlahnya, berbagai tulisan kaligrafi ayat-ayat suci Alquran juga menghiasi beberapa bagian masjid. Seperti surat Al-A'la, surat Al-Baqoroh, surat At-Thalaq, dan lainnya. Di mana letak bedug? Yaitu pada sisi kanan masjid dengan dihubungan sebuah pintu yang kemudian disebut Pintu Bedug.
"Saat ada penyerbuan tentara Jepang dan ada penjarahan isi masjid, hanya bedug yang disisakan. Jadi ini bedugnya masih asli, usianya berarti kurang lebih sama dengan usia mesjid ini," cerita Eka kepada Okezone.
Begitu juga pada bagian menara yang letaknya agak jauh dari masjid, setiap detail arsitekturnya memiliki simbol dalam Islam. Seperti ketinggian menara yang mencapai 30 meter, menurut Eka, ini merujuk pada jumlah juz dalam Alquran yaitu sebanyak 30 juz. Sementara menara terdiri dari enam tingkat yang mengartikan jumlah Rukun Iman.
Untuk mencapai ke puncak menara, sekira 90 anak tangga harus ditanjak. Okezone hanya sanggup hingga ke tingkat empat. Namun kesibukan pusat Kota Muntok, Kabupaten Bangka Barat, sudah bisa terlihat dari atas sini.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.