Berbicara tentang perjalanan pencak silat di Indonesia, Yayan enggan mengatakan bahwa pencak silat sempat mundur. Ia lebih senang jika orang Indonesia memang membutuhkan ‘trigger’ untuk kembali melirik budayanya sendiri.
“Sama halnya dengan batik, wayang, dan budaya lainnya baru dianggap setelah mendapat penilaian baik dari bangsa luar. Pencak silat memang lebih banyak diminati bahkan dicintai oleh pencinta bela diri luar negeri. Baru melalui layar lebarlah masyarakat Indonesia mulai melirik kembali bela diri asli tanah air ini.”
Dikisahkan Yayan, pada tahun 2007 ia pernah diundang sebagai tamu di festival pencak silat Bercy Prancis. Antusiasme masyarakat internasional terhadap pencak silat benar-benar di luar dugaan. Tim pencak silat dari Indonesia benar-benar dihormati hingga mampu tampil bersama 'nayaga' (iringan tabuhan) lengkap memainkan live musik. Setelahnya, Yayan diminta menetap di Prancis selama tiga bulan untuk mengajar pencak silat.
“Bahkan di Belanda kami mengadakan seminar pencak silat selama 10 hari. Gedung olahraga tempat pentas disulap menjadi semacam kafe dan panitia menjual tiket untuk melihat aksi kami. Tiket selalu sold out,” kenang Yayan sambil tersenyum.