UMAT Budha menggunakan hio untuk sembahyang, baik saat sembahyang di rumah maupun di klenteng. Namun apakah arti di balik hio?
Sembahyang untuk menyambut tahun baru China atau Imlek biasanya dilakukan di klenteng. Seperti sembahyang pada umumnya, orang melakukan sembahyang pada malam perayaan Imlek juga selalu membakar hio di depan altar para dewa.
Hio merupakan simbolis dari Tien Ti Ren, yakni Tuhan, Bumi dan Manusia. Dengan membakar hio ini, manusia senantiasa diingatkan pada ketiga unsur kehidupan di atas.
"Hio yang dibakar berjumlah tiga batang di setiap altar. Disebut juga Tien Ti Ren supaya manusia ingat ketiga itu," terang Oey Tjin Eng selaku Humas Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio kepada Okezone di kawasan Pasar Lama, Tangerang, Rabu (18/2/2015).
Sedangkan untuk sembahyang di rumah, hanya dua batang hio yang digunakan. Sebab, sembahyang di rumah umumnya merupakan sembahyang leluhur dan dilakukan di meja abu. Mereka memanjatkan doa kepada anggota keluarga yang telah wafat.
Dua batang tersebut mengandung arti kehidupan dan kematian. Sehingga manusia akan selalu mengingat bahwa ada kehidupan dan pasti ada kematian.
"Kalau untuk sembahyang leluhur jumlahnya dua batang. Supaya orang ingat kehidupan dan kematian," tutup Tjin Eng.
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.