JAKARTA - Masih teringat di benak masyarakat Indonesia, lebih setahun silam Malaysia berniat mengklaim tari Tor-Tor dan kesenian Gordang Sambilan. Bagaimana eksistensi kesenian Gordang Sambilan kini, dalam upaya mencegah pengklaiman serupa?
Isu pengklaiman budaya Nusantara oleh negara lain akan selalu menjadi perhatian banyak kalangan, termasuk yang terjadi pada kesenian Gordang Sambilan. Bukan hanya Pemerintah, segala lapisan masyarakat Indonesia juga bereaksi.
Tak lupa, tindakan setelahnya adalah bersama-sama berupaya mempertahankan budaya negeri untuk mencegah pengklaiman serupa. Seperti dilakukan terhadap kesenian Gordang Sambilan, yang eksis di Tanah Batak.
Kesenian Gordang Sambilan biasanya ditampilkan pada acara adat di Sumatera Utara. Beberapa di antaranya acara perkawinan dan kelahiran anak pertama.
“Pokoknya acara besar, Gordang selalu dimainkan. Untuk di Sumatera Utara, kesenian ini masih cukup diminati,” kata Gindatua Marpaung, Pimpinan Gordang Tapanuli Selatan, kepada Okezone di Jakarta, baru-baru ini.
Memang, tambahnya, terdapat banyak Gordang di Sumatera Utara. Jika pada umumnya lebih terkenal Gordang Sambilan dari Mandailing, di daerah lain seperti Toba maupun Tapanuli, juga ada. Yang membedakan hanya jumlah alat musik yang digunakan.
“Kalau Gordang Sambilan lebih besar-besar alat musiknya. Kalau kita tidak terlalu karena kan dibawa ke Jakarta, agak sulit kalau terlalu besar dan berat,” ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa perkembangan kesenian ini sendiri cukup konstan. Memang, di Medan kesenian ini masih cukup eksis, hanya saja di Jakarta sudah tidak terdengar, bahkan jarang masyarakat yang tahu. Ia dan grupnya merasa belum sanggup untuk mempromosikannya tanpa ajakan ataupun undangan pemerintah kota, seperti Jakarta, pada perhelatan Festival Budaya Jakarta Marathon 2013 yang diselenggarakan Minggu, 27 Oktober 2013, lalu.
“Karena biaya ya, kita enggak sanggup kalau untuk datang ke Jakarta sengaja promosi, lebih baik tunggu undangan seperti ini. Tapi kalau di kampung, kami bisa lakukan promosi sendiri. Habis tanpil di sini, sudah ada dua acara yang menunggu di kampung,” jelasnya.
Dengan Festival Budaya Jakarta Marathon 2013, Gindatua berharap perpaduan antara event olahraga dengan pagelaran budaya ini mampu mengembangkan industri pariwisata yang ada di Indonesia. “Saya senang sekali dan bangga melihat ada 17 panggung yang menampilkan beragam kesenian dari daerah masing-masing. Pastinya acara ini semakin mengenalkan Indonesia ke mata dunia karena yang saya tahu, acara ini juga diikuti oleh orang asing,” tutupnya.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.