Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Makin Runcing Gigi, Perempuan Mentawai Merasa Makin Cantik

Fitri Yulianti , Jurnalis-Selasa, 26 Februari 2013 |16:31 WIB
Makin Runcing Gigi, Perempuan Mentawai Merasa Makin Cantik
Gigi runcing perempuan suku Mentawai (Foto: odditycentral)
A
A
A

JIKA tato hitam pada gusi dianggap keindahan oleh perempuan Afrika Barat, lain lagi dengan perempuan suku Mentawai, suku asli Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ukuran kecantikan mereka adalah gigi yang dipahat runcing.

Setiap budaya memiliki ukuran kecantikan tertentu, yang diyakini dan dilakoni secara turun-temurun. Suku asli Kepulauan Mentawai meyakini bahwa kecantikan seorang perempuan bisa dilihat dari giginya yang runcing. Tak mengherankan bila ada ritual untuk meruncingkan gigi sampai mencapai bentuk yang diharapkan; tajam dan sempit. Mereka dianggap sangat cantik bila telah menjalani ritual semacam itu.

Sebagai contoh Pilongi, istri kepala desa suku Mentawai. Dia harus menjalani ritual tersebut beberapa tahun lalu. Sebenarnya, dia berhasil menghindari ritual tersebut ketika masih remaja, tapi sebagai istri dari seseorang yang berpengaruh di desa, dia pun harus menurutinya demi mendapatkan predikat cantik.

Tidak seperti perempuan modern, ukuran kecantikan perempuan suku Mentawai bukanlah pada kemulusan kulit. Ritual mengukir gigi bahkan menjadi simbol keseimbangan antara tubuh dan jiwa. Mereka percaya bahwa saat fajar menyingsing, tubuh manusia akan terpisah dengan roh atau jiwa. Manusia selalu di bawah ancaman bahwa jiwanya tidak mau bersatu kembali dengan raga jika jiwa mereka sendiri tidak senang dengan raganya. Jadi, dekorasi permanen seperti tato yang dibuat pada tubuh, bertujuan membuat jiwa bahagia, dan untuk menghindari kematian selama mungkin.

Meruncingkan gigi adalah tindakan yang sangat menyakitkan, yang berkat perkembangan waktu kini ritual tersebut telah menjadi pilihan (bukan keharusan) bagi banyak perempuan muda. Pilongi sendiri harus melakukannya, karena sang suami membutuhkan istri yang cantik sesuai dengan statusnya di desa.

"Saya memintanya untuk melakukannya dan saya yakin dia akan menjadi lebih cantik setelah itu," kata suaminya, seperti disitat dari Odditycentral, Selasa (26/2/2013).

Upacara meruncingkan berlangsung di rumah desa komunal, dan beberapa warga desa berkumpul untuk menyaksikannya. Senang dan gugup, itulah yang dirasakan Pilongi ketika itu.

"Saya tidak takut sakit. Jika saya berpikir tentang itu, saya tidak akan cantik," ujarnya.

Peruncing giginya mempersiapkan alat berupa pahat tajam yang menyebabkan sedikit rasa sakit. Ritual itu dilakukan tanpa anestesi dan berlangsung cepat. Untuk meredam rasa sakit, Pilongi diberi pisang hijau mentah untuk dikunyah. Dia tampak lega usai ritual.

"Sekarang, dengan gigi yang tajam, saya terlihat lebih cantik untuk suami saya. Jadi, dia tidak akan meninggalkan saya," ujarnya.

Namun, sang suami justru berpendapat berbeda. "Mungkin, kalau dia tak lagi bersama saya, dia akan mendapatkan suami baru, karena sekarang dia jadi cantik," candanya.

Hal terpenting bagi Pilongi dan perempuan suku Mentawari lainnya adalah bahwa jiwa mereka akhirnya kembali seimbang dengan raga. Dan tentu, mereka harus menghindari kebiasaan menggigit lidah bila tak ingin kesakitan.

(Fitri Yulianti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement